Pesta Kriket Wanita Dimulai: Siapa yang Berani Menantang Australia?
Baca dalam 60 detik
- Australia tetap menjadi unggulan utama meski performa di dua turnamen terakhir kurang memuaskan, namun kekuatan batting mereka sulit ditandingi.
- Inggris, tuan rumah, menunjukkan peningkatan signifikan dengan fokus pada pemain serba bisa dan belum pernah kalah di Piala Dunia kandang.
- India dan Afrika Selatan, yang kerap gagal di momen krusial, berusaha mematahkan stigma 'pecundang' di turnamen yang dimulai Jumat ini.

Piala Dunia T20 Wanita 2025 resmi bergulir Jumat (28/6) dengan laga pembuka antara Inggris dan Sri Lanka di Edgbaston. Turnamen 12 tim ini mempertemukan kandidat kuat seperti juara bertahan Australia, India yang haus gelar, serta Afrika Selatan yang tiga kali menjadi runner-up. Pertanyaan besarnya: akankah ada kejutan grup seperti yang diprediksi banyak pengamat?
Australia, yang enam kali meraih gelar, datang dengan status favorit namun juga beban tersendiri. Mereka tersingkir di semifinal edisi 2024 dan gagal di Piala Dunia 50-over tahun lalu. Kini di bawah kapten baru Sophie Molineux, tim ini harus membuktikan konsistensi di momen krusial. Kelebihan mereka terletak pada kedalaman batting—pemukul kuat berjejer hingga ke urutan bawah—yang jarang dimiliki tim lain. Namun, kelemahan di sektor bowling masih menjadi celah yang bisa dieksploitasi lawan.
Inggris, yang belum pernah kalah di Piala Dunia saat menjadi tuan rumah, datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menaklukkan India dalam seri pemanasan. Pelatih Charlotte Edwards secara sadar membentuk tim dengan lebih banyak pemain serba bisa, meniru formula Australia. Namun, catatan buruk mereka di turnamen global—terakhir lolos ke final pada 2022—menjadi pengingat bahwa tekanan masih menjadi musuh utama.
India, yang tiga kali berturut-turut melaju ke final namun selalu kalah, kembali dihantui stigma 'gagal di momen besar'. Mereka tergabung dalam 'grup neraka' bersama Australia, Afrika Selatan, dan Pakistan. Kembalinya Shabnim Ismail untuk berduet dengan Marizanne Kapp di lini depan membuat Afrika Selatan semakin tangguh, meski ada keraguan soal kedalaman skuad. Sementara Pakistan dan Bangladesh mengandalkan bowling, namun kekurangan daya gedor di batting membuat peluang mereka tipis.
Skotlandia, yang sebagian besar pemainnya bermain di liga domestik Inggris, dipandang sebagai kuda hitam. Kehadiran Kirstie Gordon yang kembali dari Inggris menjadi suntikan moral. Sebaliknya, Irlandia dan Sri Lanka terlalu bergantung pada satu atau dua bintang—Gaby Lewis dan Chamari Athapaththu—sehingga rentan jika pemain kunci tersebut gagal tampil. Belanda, yang lolos sebagai kisah inspiratif, akan mengandalkan kapten Babette de Leede dan Sterre Kalis, meski status non-profesional mereka menjadi kendala besar.
Bagi Indonesia, meski tidak terlibat langsung, turnamen ini menyajikan pelajaran berharga. Negara-negara seperti Skotlandia dan Belanda membuktikan bahwa pengembangan kriket bisa dimulai dari liga domestik yang solid. Tanpa sistem pembinaan yang berjenjang, mustahil bersaing di level global. Sementara dominasi Australia dan Inggris menunjukkan pentingnya investasi pada kompetisi profesional seperti Women's Premier League.
Dengan sistem dua grup yang masing-masing berisi enam tim, hanya dua teratas dari setiap grup yang lolos ke semifinal. Pertandingan-pertandingan awal akan menjadi penentu, terutama di Grup A yang dihuni Australia, India, Afrika Selatan, Pakistan, Bangladesh, dan Selandia Baru. Bisakah salah satu tim 'kecil' mencuri satu tiket ke babak gugur? Ataukah logika peringkat akan kembali berjalan mulus?



