Konflik Iran-Israel Memanas, Harga Minyak Melonjak 5% dan Mengancam Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal balasan antara Iran dan Israel mendorong harga minyak mentah Brent dan WTI naik hampir 5% dalam sepekan.
- Ancaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah dan Selat Hormuz memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
- Kenaikan produksi OPEC+ sebesar 188.000 barel per hari pada Juli belum cukup meredam gejolak harga akibat ketegangan geopolitik.

Harga minyak mentah dunia melonjak nyaris 5% pada awal pekan ini setelah eskalasi serangan rudal antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Brent, acuan internasional, ditutup di level 97,69 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 94,49 dolar AS per barel—masing-masing naik 4,9% dan 4,5% dari perdagangan sebelumnya.
Serangan terbaru dimulai ketika pesawat tempur Israel menyerang fasilitas petrokimia milik Karun Mahshahr Petrochemical Company di Mahshahr, barat daya Iran. Valiollah Hayati, deputi gubernur bidang keamanan Provinsi Khuzestan, membenarkan bahwa proyektil menghantam kompleks industri tersebut, meski tidak ada korban jiwa. Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang rudal ke arah Israel, memicu sirene di Yerusalem, Tepi Barat, dan kota-kota utara. Militer Israel mengklaim berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun suara ledakan tetap terdengar di sejumlah wilayah.
Ketegangan tidak berhenti di udara. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengumumkan larangan segera bagi semua kapal yang terkait dengan Israel untuk melintasi Laut Merah. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan serangan terhadap Israel sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai tindakan eskalatif Israel. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika.
Di sisi lain, tujuh anggota OPEC+ telah menyepakati kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli, dengan Saudi Arabia dan Rusia memimpin peningkatan masing-masing 62.000 barel per hari. Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman turut menambah pasokan dalam jumlah lebih kecil. Keputusan ini diambil untuk menstabilkan pasar, namun analis menilai jumlah tersebut masih terlalu kecil untuk mengimbangi potensi gangguan besar jika konflik meluas hingga ke Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% minyak dunia.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini berimplikasi langsung pada beban subsidi energi dan inflasi. Pemerintah tengah berupaya menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil, namun jika harga minyak bertahan di atas 95 dolar AS per barel, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar. Selain itu, risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah juga mengancam ketahanan energi nasional, mengingat Indonesia masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah signifikan.
Para pengamat memperingatkan bahwa situasi masih sangat fluktuatif. Jika Iran dan Israel terus saling serang, bukan tidak mungkin harga minyak menembus 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah OPEC+ bersedia membuka keran produksi lebih besar, atau justru konflik ini akan mempercepat transisi energi global?



