Dumfries ke Real Madrid, Inter Siapkan Pengganti Muda Senilai €50 Juta
Baca dalam 60 detik
- Real Madrid mengaktifkan klausul €20 juta Denzel Dumfries, yang telah menjalani tes medis saat membela timnas Belanda.
- Inter Milan mengincar Marco Palestra, bek kanan Atalanta berusia 21 tahun, sebagai suksesor utama dengan banderol mendekati €50 juta.
- Kehilangan Dumfries tak mengubah status Inter sebagai favorit Scudetto musim depan, berkat perencanaan matang dan kedalaman skuad.

Real Madrid resmi mengamankan jasa Denzel Dumfries setelah menyetujui klausul pelepasan senilai €20 juta yang dimiliki Inter Milan. Bek kanan asal Belanda berusia 30 tahun itu bahkan telah menjalani serangkaian tes medis di kubu Los Blancos saat memperkuat tim nasionalnya dalam persiapan Piala Dunia. Kepindahan ini menandai akhir dari masa baktinya selama lima musim bersama Nerazzurri.
Inter, yang baru saja meraih gelar Serie A 2025-26 di bawah asuhan Cristian Chivu, tak tinggal diam. Manajemen klub telah menyusun rencana suksesi yang matang, dengan Marco Palestra menjadi target utama untuk mengisi pos yang ditinggalkan Dumfries. Bek kanan milik Atalanta itu menghabiskan musim lalu dengan status pinjaman di Cagliari dan mencatatkan performa impresif hingga dipanggil memperkuat timnas senior Italia pada Maret 2026.
Namun, Atalanta tak akan melepas pemain berusia 21 tahun itu dengan harga murah. Palestra masih terikat kontrak hingga Juni 2029, dan La Dea dikabarkan mematok banderol mendekati €50 juta—lebih dari dua kali lipat nilai transfer Dumfries. Meski demikian, Inter diyakini memiliki fleksibilitas finansial berkat pendapatan dari penjualan Dumfries serta keberhasilan meraih double winner musim lalu (Scudetto dan Coppa Italia).
Pelatih Inter, Cristian Chivu, enggan berkomentar banyak mengenai Palestra, namun menegaskan bahwa klub telah memiliki rencana cadangan untuk setiap posisi. “Kami sudah merencanakan semuanya; ada rencana A dan B untuk setiap peran. Tapi begitu Agustus tiba, apa pun bisa terjadi—terutama di musim panas Piala Dunia, semuanya bisa berubah menjadi mimpi buruk,” ujar Chivu kepada Gazzetta dello Sport. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan inti pemain muda Italia yang sudah memahami filosofi klub.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa seperti Inter tetap kompetitif meski kehilangan pilar utama. Strategi merekrut pemain muda potensial dengan harga tinggi, seperti Palestra, menjadi pola yang lazim di era modern. Di sisi lain, kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut—yang turut dirasakan Palestra dalam debutnya—menjadi pengingat bahwa regenerasi pemain muda tak selalu berjalan mulus.
Inter kini menghadapi musim baru dengan target memperbaiki performa di Liga Champions setelah tersingkir dini oleh Bodo/Glimt. Dengan dana segar dari transfer Dumfries dan incaran pemain bertalenta seperti Palestra, mampukah Nerazzurri mempertahankan dominasi domestik sekaligus bersaing di Eropa? Ataukah keputusan melepas Dumfries justru akan menjadi bumerang di tengah persaingan ketat Serie A?



