Gempa M7,7 di Filipina: Delapan Wilayah Sulut Masih Siaga Tsunami
Baca dalam 60 detik
- BMKG menetapkan status siaga tsunami di delapan daerah Sulawesi Utara pasca gempa M7,7 di Filipina.
- Wilayah terdampak meliputi Kepulauan Sangihe, Talaud, dan sebagian Minahasa, dengan potensi gelombang tinggi.
- Masyarakat diimbau menjauhi pantai dan mengikuti arahan BPBD hingga status dicabut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mempertahankan status siaga tsunami di delapan kabupaten dan kota di Sulawesi Utara hingga Senin siang, menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada pukul 06.37 WIB.
Gempa tektonik yang berpusat di laut pada kedalaman 47 kilometer itu memicu gelombang tsunami yang diprediksi mencapai wilayah pesisir utara Indonesia. Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Maritim Bitung, Ricky Daniel Aror, mengimbau warga untuk tetap tenang namun waspada. "Kami berharap warga mematuhi rekomendasi dari pemerintah daerah, khususnya badan penanggulangan bencana daerah," ujarnya di Manado.
Delapan daerah yang masuk kategori siaga adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Minahasa Utara, Minahasa, Bolaang Mongondow Utara, Kota Bitung, dan Kota Manado. Sementara itu, tiga daerah lainnya—Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, dan Minahasa Selatan bagian utara—ditetapkan dalam status waspada.
BMKG mencatat bahwa gempa ini merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Filipina. Masyarakat pesisir diimbau untuk tidak berada di sekitar pantai dan tidak melakukan aktivitas di bibir pantai hingga peringatan dini dicabut. Ricky menambahkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan dan akan memperbarui informasi secara berkala.
Bagi Indonesia, khususnya Sulawesi Utara, ancaman tsunami dari gempa di Filipina bukanlah hal baru. Wilayah ini berada di jalur cincin api Pasifik yang rawan gempa dan tsunami. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pesisir. Pemerintah daerah setempat telah mengaktifkan posko darurat dan menyiagakan peralatan evakuasi.
Bagaimana respons masyarakat terhadap peringatan dini ini? Akankah sistem deteksi dini BMKG mampu memberikan waktu yang cukup bagi warga untuk menyelamatkan diri? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab seiring berjalannya waktu, namun yang jelas, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama.



