Robin van Persie Dipecat Feyenoord: Prestasi Tak Cukup, Gaya Main Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Feyenoord memutus kontrak Robin van Persie setelah 16 bulan, meski finis kedua dan lolos Liga Champions.
- Keputusan diambil setelah analisis internal yang menyoroti penurunan gaya bermain dan perolehan poin.
- Pemecatan terjadi dua pekan setelah direktur teknis baru menjabat, menandai perubahan arah klub.

Robin van Persie harus meninggalkan kursi pelatih Feyenoord setelah hanya 16 bulan menukangi klub Eredivisie tersebut. Meski berhasil membawa tim asal Rotterdam itu finis kedua dan lolos ke Liga Champions musim depan, manajemen menilai ada tren negatif yang tak bisa diabaikan.
Keputusan ini diumumkan hanya dua pekan setelah Devy Rigaux resmi menjabat sebagai direktur teknis dan Robert Eenhoorn sebagai direktur utama. Rigaux, dalam pernyataan resmi klub, mengakui kontribusi Van Persie yang berhasil menyelamatkan musim yang sulit dengan finis kedua. "Dia pantas mendapat penghargaan karena mengamankan tiket Liga Champions, yang sangat penting bagi klub," ujarnya.
Namun, analisis internal yang dilakukan manajemen menemukan sejumlah kelemahan. "Kami mengevaluasi perkembangan gaya bermain dan tren penurunan perolehan poin, baik di Eropa maupun di Eredivisie. Kesimpulannya, lebih baik memulai musim depan dengan pelatih kepala baru," tegas Rigaux. Van Persie mencatatkan 30 kemenangan dari 58 pertandingan, tetapi jarak 19 poin dari juara PSV Eindhoven dianggap sebagai sinyal stagnasi.
Karier kepelatihan Van Persie dimulai sebagai asisten Dick Advocaat di Feyenoord, lalu menangani tim muda sebelum pindah ke Heerenveen pada Mei 2024. Ia kembali ke Feyenoord sembilan bulan kemudian untuk menggantikan Brian Priske. Namun, masa baktinya hanya berlangsung singkat. Sebagai pemain, Van Persie adalah legenda di Rotterdam, mencetak 46 gol dalam 122 penampilan dalam dua periode berseragam Feyenoord.
Kepergian Van Persie menimbulkan pertanyaan tentang arah Feyenoord ke depan. Klub yang identik dengan pengembangan pemain muda dan sepak bola menyerang kini harus mencari figur baru yang mampu membawa konsistensi, terutama di kancah Eropa. Bagi Van Persie, ini adalah pukulan telak dalam perjalanan kepelatihannya yang masih muda. Namun, pengalaman di level tertinggi sebagai pemain dan pelatih bisa menjadi modal untuk kesempatan berikutnya.
Di Indonesia, kisah Van Persie selalu mendapat perhatian khusus. Namanya melambung saat membela Arsenal dan Manchester United, menjadi idola banyak penggemar sepak bola Tanah Air. Pemecatan ini mengingatkan bahwa dunia kepelatihan tak kenal ampun, bahkan bagi legenda sekalipun. Pertanyaan besarnya: akankah Van Persie mendapat kesempatan kedua di klub lain, atau justru kembali ke Inggris untuk memulai lagi?



