Satgas PRR Percepat Pemulihan Infrastruktur Sumatra: Jalan, Jembatan, dan Tanggul Dikebut Sebelum Musim Hujan
Baca dalam 60 detik
- Satgas PRR memastikan proyek rehabilitasi infrastruktur di Aceh, Sumut, dan Sumbar berjalan sesuai target untuk melindungi masyarakat dari bencana susulan.
- Pekerjaan difokuskan pada penanganan longsor, normalisasi sungai, dan pembangunan tanggul di titik kritis seperti Aceh Tengah dan Gayo Lues.
- Target penyelesaian sejumlah proyek dimajukan dari Agustus untuk mengantisipasi puncak musim hujan akhir tahun.

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra memastikan seluruh proyek pemulihan infrastruktur di tiga provinsi terdampak bencana hidrometeorologi akhir 2024 tetap on track, dengan sejumlah pekerjaan bahkan dipercepat untuk mengantisipasi musim hujan yang diprediksi kembali tinggi pada penghujung tahun.
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa prioritas pemulihan meliputi infrastruktur dasar seperti sungai, jalan, jembatan, serta hunian tetap (huntap) agar masyarakat tidak terlalu lama tinggal di hunian sementara. "Tadi disampaikan yang diprioritaskan adalah infrastruktur, sungai, jalan, jembatan, perdagangan, pertanian, kemudian huntap juga penting," ujarnya usai rapat dengan Ketua Tim Pengarah Satgas PRR Pratikno di Jakarta.
Pemantauan langsung dilakukan Satgas bersama Balai Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, dan kontraktor di sejumlah titik prioritas. Selain mengecek progres, tim juga menyerap kendala lapangan seperti kebutuhan material, pembebasan lahan, dan pasokan bahan bakar alat berat.
Di Aceh Tengah, penanganan longsor dan penguatan lereng di titik-titik kritis terus menunjukkan kemajuan. Satgas meminta agar pekerjaan di akses utama masyarakat dipercepat, mengingat curah hujan tinggi kerap memicu longsor susulan. Sementara itu, di Gayo Lues, pembangunan tanggul pengaman sungai menjadi sorotan. Target awal Agustus 2025 diminta dimajukan agar perlindungan permukiman dan lahan produktif bisa segera dirasakan warga sebelum puncak musim penghujan.
Di kawasan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Satgas meninjau langsung pembangunan tanggul pengendali banjir, jalan, dan jembatan. Meskipun menghadapi tantangan teknis, para pekerja tetap melakukan percepatan hingga malam hari untuk menjaga target penyelesaian. Upaya ini menjadi bukti komitmen seluruh pihak agar aktivitas masyarakat, distribusi logistik, dan mobilitas ekonomi dapat kembali normal.
Dalam pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dan unsur Forkopimda, Satgas menerima berbagai masukan terkait pemulihan layanan publik, termasuk usulan perbaikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Seluruh masukan akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, sehingga proses pemulihan lebih menyeluruh dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Di Desa Kutagaluh, Kecamatan Lawe Bulan, hasil penanganan penguatan dinding sungai mulai memberikan rasa aman bagi warga. Pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas pembangunan tanggul yang telah mengurangi kekhawatiran terhadap ancaman banjir susulan. Satgas PRR menilai dukungan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran seluruh proyek rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan seluruh infrastruktur yang dibangun mampu bertahan dalam jangka panjang. Sinergi antara pembangunan jalan dan pengendalian aliran sungai menjadi kunci agar pemulihan tidak sia-sia. Pertanyaannya, akankah percepatan ini cukup untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang kian tidak menentu?
