Tottenham Genjot Perburuan Palhinha, Duet Bek Baru Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur tengah menegosiasikan pembelian permanen Joao Palhinha dari Bayern Munich dengan nilai di bawah 26 juta poundsterling.
- Klub asal London itu sudah mengamankan dua bek gratis, Marcos Senesi dan Andy Robertson, serta mengincar Jan Paul van Hecke dari Brighton.
- Palhinha dianggap sebagai kunci untuk melindungi lini belakang baru Spurs yang agresif dalam membangun serangan.

Tottenham Hotspur tak membuang waktu di bursa transfer musim panas ini. Setelah mengamankan dua bek berpengalaman secara gratis, klub London Utara itu kini memfokuskan diri untuk mempertahankan gelandang bertahan Joao Palhinha, yang musim lalu dipinjam dari Bayern Munich.
Manajer Roberto De Zerbi, yang berjanji tak akan berlibur setelah musim 2025/26 berakhir, telah merealisasikan janjinya. Dalam beberapa pekan terakhir, Spurs mengonfirmasi kedatangan Marcos Senesi dari Bournemouth dan Andy Robertson dari Liverpool, keduanya dengan status bebas transfer. Langkah ini dianggap sebagai cara cerdas untuk memperkuat skuad tanpa menguras anggaran besar.
Namun, perombakan belum selesai. Tottenham dikabarkan telah mengajukan tawaran untuk bek Brighton, Jan Paul van Hecke, meski ditolak karena The Seagulls meminta mahar 70 juta poundsterling—angka yang dinilai terlalu tinggi. Meski begitu, negosiasi personal terms dengan pemain asal Belanda itu dikabarkan tak menemui kendala.
Di tengah upaya mendatangkan Van Hecke, Tottenham juga terus bernegosiasi dengan Bayern Munich untuk mempermanenkan Palhinha. Gelandang Portugal itu menghabiskan musim 2025/26 dengan status pinjaman di Tottenham Hotspur Stadium, dan Spurs memiliki opsi pembelian sebesar 26 juta poundsterling. Namun, menurut laporan Sky Sports yang dikutip Florian Plettenburg, pembicaraan masih berlangsung dan Palhinha ingin segera menentukan masa depannya. Hambatan utama adalah soal struktur pembayaran; Spurs ingin menekan biaya di bawah angka yang disepakati sebelumnya.
Kebutuhan akan Palhinha semakin mendesak mengingat performa lini belakang Tottenham yang buruk. Hanya tiga tim degradasi yang kebobolan lebih banyak dari 57 gol Spurs musim lalu. Jika kapten Cristian Romero hengkang, situasi bisa semakin runyam. Kehadiran Senesi dan Van Hecke—dua bek agresif yang piawai membangun serangan dari belakang—akan sangat membantu, tetapi mereka tetap membutuhkan pelindung di depan mereka.
Palhinha telah menjadi bagian dari folklore klub setelah mencetak gol yang menjaga Spurs tetap di Premier League. Namun, peran utamanya bukan sebagai pencetak gol, melainkan sebagai penghalang di depan lini pertahanan. Musim lalu, tak ada pemain di Premier League yang melakukan lebih banyak tekel per 90 menit darinya (4,51). Ia juga memenangkan 6,43 duel tanah per 90 menit, tertinggi di skuad Spurs. Angka ini menunjukkan betapa besar beban defensif yang dipikul tim di bawah tiga pelatih berbeda musim lalu—Thomas Frank, Igor Tudor, dan De Zerbi.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Tottenham menarik untuk diikuti karena klub ini memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Kehadiran pemain seperti Palhinha, yang dikenal sebagai gelandang bertahan tangguh, bisa menjadi inspirasi bagi pesepakbola muda Indonesia yang mengidolakan gaya bermain keras dan disiplin. Selain itu, strategi Spurs yang cerdik di bursa transfer—mendatangkan pemain gratis dan memanfaatkan opsi pembelian—bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang seringkali terbatas secara finansial.
Dengan Senesi, Robertson, dan potensi Van Hecke di lini belakang, serta Palhinha yang siap melindungi mereka, Tottenham berharap bisa bangkit dari keterpurukan. Pertanyaannya, akankah De Zerbi mampu meramu semua elemen baru ini menjadi tim yang solid dalam waktu singkat? Atau justru perubahan besar ini akan membutuhkan waktu adaptasi yang panjang?



