Antonelli Makin Tak Terkejar, Russell Terpuruk: Dominasi Sempurna di Monaco
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli menang kelima beruntun di F1 2025, memperlebar jarak di puncak klasemen menjadi 66 poin.
- George Russell terus dirundung nasib buruk dan kesalahan tim, finis di luar poin di Monaco.
- Performa kontras kedua pembalap Mercedes memunculkan pertanyaan tentang konsistensi dan kepercayaan diri Russell.

Kimi Antonelli, pembalap Mercedes berusia 19 tahun, menorehkan sejarah sebagai pemenang termuda Grand Prix Monaco setelah finis terdepan dengan gaya dominan, Minggu (25/5). Kemenangan kelimanya secara beruntun musim ini kian mengukuhkan posisinya sebagai kandidat kuat juara dunia, sementara rekan setimnya, George Russell, justru tenggelam dalam frustrasi setelah finis di urutan ke-13 akibat serangkaian insiden di luar kendalinya.
Antonelli memulai balapan dari posisi terdepan dan langsung memimpin setelah tikungan pertama, mengatasi kelemahannya di awal balapan yang kerap membuatnya kehilangan posisi. Meskipun sempat diperlambat oleh masalah rem yang overheat, ia mampu membangun keunggulan lebih dari 20 detik sebelum akhirnya bendera merah mengubah dinamika lomba. “Saya merasa sangat menyatu dengan mobil dan bisa menemukan ritme yang tepat,” ujar Antonelli seusai balapan.
Sementara itu, Russell yang start dari posisi ke-11 sempat menunjukkan performa menjanjikan, tetapi hukuman pit lane speeding dan kesalahan tim dalam menjalankan penalti membuatnya terlempar dari zona poin. “Saya sulit memahami bagaimana musim ini bisa berjalan seperti ini,” kata Russell, yang kehilangan potensi podium akibat faktor di luar kemampuannya.
Kontras nasib kedua pembalap Mercedes ini menimbulkan tanda tanya besar. Russell, yang musim lalu dianggap sebagai penantang gelar, kini harus menghadapi kenyataan bahwa Antonelli tidak hanya lebih beruntung, tetapi juga lebih cepat. Di Miami, Antonelli benar-benar mendominasi, sementara di Kanada, meski Russell start terdepan dan memimpin, Antonelli terus menekan sebelum akhirnya Russell mundur karena masalah teknis.
Manajer tim Mercedes, Toto Wolff, membela Russell dengan mengatakan bahwa performa tidak bisa dinilai hanya dari hasil akhir. “Formula 1 soal fisika, bukan mistik. Anda tidak lupa cara membalap dalam semalam,” ujar Wolff. Ia mencontohkan bahwa dua pekan lalu di Montreal, Russell meraih pole position dan memenangi sprint race. “Kami harus tetap tenang dan menganalisis data,” tambahnya.
Namun, situasi ini mengingatkan pada dinamika McLaren tahun lalu, ketika Oscar Piastri tampil mengejutkan di awal musim dan Lando Norris kesulitan menemukan kepercayaan diri. Bedanya, Norris segera mengakui masalahnya dan tim terbuka dalam penanganan. Russell baru mengakui kesulitannya setelah Monaco, dan kini ia harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dominasi Antonelli menawarkan tontonan menarik—pembalap muda Italia yang tampil tanpa cela. Namun, nasib Russell juga menjadi pengingat bahwa faktor keberuntungan dan dukungan tim sangat menentukan dalam olahraga ini. Pertanyaan besarnya: mampukah Russell bangkit kembali, ataukah Antonelli akan terus melaju tanpa hambatan menuju gelar juara dunia?



