Hamilton Bangkit dari Keraguan: Podium Kedua di Monako Bawa Juara Dunia ke Peringkat Dua Klasemen
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton finis kedua di GP Monako 2026, menyamai rekor delapan podium Ayrton Senna di sirkuit tersebut.
- Setelah musim debut sulit bersama Ferrari pada 2025, performa Hamilton membaik berkat regulasi aerodinamika baru yang cocok dengan gaya balapnya.
- Hasil ini mengangkat Hamilton ke posisi kedua klasemen pembalap, tertinggal 66 poin dari pemimpin Kimi Antonelli.

Lewis Hamilton kembali menunjukkan taringnya di ajang Formula 1. Pebalap asal Inggris itu finis kedua di Grand Prix Monako, Minggu (25/5), sekaligus menyamai rekor delapan podium milik legenda Ayrton Senna di sirkuit jalan raya Monte Carlo. Lebih dari sekadar angka, hasil ini menjadi penegasan bahwa Hamilton belum habis setelah melalui musim perdananya bersama Ferrari yang penuh keraguan pada 2025.
Pebalap berusia 41 tahun itu mengaku harus bekerja ekstra untuk membuktikan kemampuannya kembali. “Saya merasa harus mengingatkan orang-orang siapa saya,” ujar Hamilton seusai balapan. Ia mengakui bahwa musim lalu ia sempat meragukan diri sendiri, bahkan beberapa kali secara terbuka mempertanyakan masa depannya di Ferrari. Namun, perubahan regulasi aerodinamika yang diterapkan F1 pada 2026—yang menghasilkan mobil lebih sesuai dengan gaya balap Hamilton—menjadi titik balik.
Hamilton memuji dukungan kepala tim Ferrari, Frederic Vasseur, yang mempertahankannya dan melakukan perubahan pada mobil serta tim. “Fred luar biasa mendukung saya. Tahun lalu sangat berat, saya memohon perubahan tertentu, dan dia mewujudkannya. Sekarang saya menuai hasilnya,” kata Hamilton. Ia juga mengakui bahwa kecepatan Mercedes milik Kimi Antonelli masih di level berbeda, terutama dalam hal downforce dan traksi. “Performa mereka kelas satu. Ini memberi saya gambaran jelas di mana tim harus meningkatkan diri,” tambahnya.
Sementara itu, rekan setim Hamilton, Charles Leclerc, mengalami nasib sial. Pebalap asal Monako itu kecelakaan saat restart setelah safety car pertama akibat lintasan yang rusak. Leclerc mengeluhkan masalah rem yang sudah berlangsung sejak dua balapan sebelumnya. “Saya menyentuh rem dan ada yang tidak beres. Rem depan mengerem lebih keras dari perkiraan, sementara rem belakang tidak memberikan deselerasi sama sekali. Ini mimpi buruk,” ujar Leclerc frustrasi. Ia menegaskan tidak ingin mencari-cari alasan, tetapi data menunjukkan ada masalah teknis.
Bagi Indonesia, kebangkitan Hamilton menjadi tontonan menarik mengingat popularitas F1 yang terus tumbuh di Tanah Air. Dengan siaran langsung di berbagai platform, momen seperti ini memperkuat daya tarik olahraga jet darat di kalangan penggemar muda. Kehadiran Kim Kardashian, pasangan Hamilton, di paddock Monako juga menambah sorotan media, menunjukkan bagaimana F1 semakin menjadi ajang hiburan global.
Hamilton kini menatap sisa musim dengan optimisme. “Masih awal musim, kami harus terus mengejar. Lebih mudah mengejar daripada bertahan. Saya yakin suatu saat kami akan sampai di puncak,” katanya. Pertanyaannya, akankah Ferrari mampu menutup jarak 66 poin dengan Mercedes yang dominan? Atau justru Hamilton akan kembali menemukan performa juara dunianya yang sempat meredup? Musim 2026 masih panjang, dan Monako baru awal dari perjalanan panjang sang legenda.



