Tinggalkan Harta Rp90 Triliun, Putra Konglomerat Malaysia Pilih Hidup sebagai Biksu
Baca dalam 60 detik
- Ajahn Siripanyo, putra tunggal miliarder Malaysia Ananda Krishnan, memilih menjadi biksu Buddha dan meninggalkan warisan bisnis senilai US$5 miliar.
- Keputusan itu diambil saat ia berusia 18 tahun setelah mengikuti retret spiritual di Thailand, dan kini telah dijalani selama lebih dari dua dekade.
- Kisahnya menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan kekayaan material, relevan bagi pembaca Indonesia di tengah budaya konsumtif.

Ajahn Siripanyo, putra tunggal konglomerat Malaysia Ananda Krishnan, memilih meninggalkan kehidupan mewah dan warisan bisnis senilai Rp90 triliun demi menjadi biksu Buddha. Keputusan yang diambil sejak usia 18 tahun ini telah dijalaninya selama lebih dari dua dekade, menjadikannya simbol perlawanan terhadap materialisme di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Ananda Krishnan, ayah Siripanyo, adalah pendiri Maxis Communications dan pemilik kerajaan bisnis yang membentang dari telekomunikasi, satelit, minyak dan gas, properti, hingga media. Kekayaannya diperkirakan mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp90,48 triliun. Namun, putra tunggalnya justru memilih jalan sunyi sebagai biksu hutan di Biara Dtao Dum, dekat perbatasan Thailand-Myanmar.
Keputusan Siripanyo tidak hanya mengejutkan kalangan bisnis, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang makna kekayaan. "Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga," demikian laporan South China Morning Post yang dikutip Economic Times, Minggu (7/6/2026).
Siripanyo tidak hanya mewarisi darah bisnis dari sang ayah, tetapi juga garis keturunan bangsawan dari pihak ibu. Ibunya, Momwajarongse Suprinda Chakraban, merupakan keturunan keluarga kerajaan Thailand. Ia menghabiskan masa kecil di London, menempuh pendidikan di Inggris, dan menguasai sedikitnya delapan bahasa. Pengalaman lintas budaya itu justru memperdalam pemahamannya terhadap ajaran Buddha.
Perjalanan spiritual Siripanyo bermula dari retret singkat di Thailand yang kemudian berubah menjadi komitmen seumur hidup. Sebagai biksu, ia hidup dari derma masyarakat, menjalani keseharian yang jauh berbeda dari lingkungan aristokrat tempat ia dibesarkan. Meski demikian, ia sesekali tetap mengunjungi sang ayah tanpa meninggalkan prinsip-prinsip Buddhis.
Kisah Siripanyo kerap dibandingkan dengan tokoh fiktif Julian Mantle dalam buku The Monk Who Sold His Ferrari. Bedanya, perjalanan Siripanyo adalah nyata: seorang pewaris kerajaan bisnis yang memilih jalan spiritual ketimbang harta benda. Fenomena ini mengingatkan pada tradisi thudong di Thailand, di mana para biksu berjalan kaki menerima derma sebagai bentuk pelepasan.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini relevan di tengah budaya konsumtif yang kerap mengukur kesuksesan dari materi. Keputusan Siripanyo menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan di luar gemerlap harta. Pertanyaan yang muncul: apakah masyarakat Indonesia siap menerima paradigma bahwa meninggalkan kekayaan demi spiritualitas adalah pilihan yang patut dihormati, bukan dianggap aneh?



