Antonelli Kunci Gelar Juara F1 Usai Menangi Monaco Grand Prix yang Kacau
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli memenangi Monaco GP dengan dominasi mutlak, unggul 20 detik sebelum safety car, dan kini memimpin klasemen dengan selisih 66 poin dari Lewis Hamilton.
- Kekacauan di akhir lomba dipicu oleh dua kecelakaan di tikungan terakhir, enam penalti pit lane, dan keputusan strategis Red Bull yang mengangkat Isack Hadjar ke podium.
- George Russell harus puas di posisi 13 akibat penalti drive-through, sementara Charles Leclerc menolak bertanggung jawab atas kecelakaannya sendiri di depan publik sendiri.

Kimi Antonelli memastikan dominasinya di Formula 1 musim ini dengan kemenangan gemilang di Monaco Grand Prix, Minggu (26/5). Pebalap Mercedes berusia 19 tahun itu finis terdepan di depan Lewis Hamilton (Ferrari) setelah lomba berakhir kacau dengan dua safety car dan satu red flag. Kemenangan kelima beruntun ini membuat Antonelli unggul 66 poin atas Hamilton di klasemen pebalap, memperkuat prediksinya sebagai calon juara dunia musim ini.
Lomba yang berlangsung di sirkuit jalan raya Monte Carlo itu berjalan mulus bagi Antonelli sejak start. Ia berhasil mempertahankan posisi terdepan untuk pertama kalinya musim ini, sementara Max Verstappen (Red Bull) yang start di sampingnya langsung mengalami masalah mesin dan tersingkir di lap pertama. Tanpa tekanan dari rival utamanya, Antonelli langsung membangun keunggulan 2,9 detik dalam dua lap dan terus melebarkannya hingga lebih dari 20 detik sebelum safety car pertama muncul pada lap 60.
Kekacauan dimulai ketika Lance Stroll (Aston Martin) menabrak dinding di tikungan terakhir, memicu safety car. Saat mobil-mobil bersiap untuk restart, Charles Leclerc justru mengalami kecelakaan serupa di titik yang sama—bahkan sebelum balapan kembali digulirkan. Insiden itu menyebabkan red flag karena petugas harus memeriksa permukaan lintasan yang mulai rusak di tikungan Antony Noghes. Enam pebalap juga mendapat penalti karena melaju terlalu cepat di pit lane, termasuk Pierre Gasly yang sempat finis ketiga namun turun ke posisi ketujuh.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dominasi Antonelli menjadi tontonan menarik karena ia adalah pebalap termuda yang tampil konsisten di puncak. Namun, kekacauan di Monaco juga mengingatkan pada pentingnya keselamatan lintasan dan disiplin pebalap—pelajaran yang relevan dengan perkembangan ajang balap di Indonesia seperti Formula E Jakarta. Selain itu, performa Isack Hadjar yang finis ketiga untuk Red Bull menunjukkan bahwa strategi berani—seperti tidak masuk pit saat safety car—dapat mengubah hasil lomba secara dramatis.
Kemenangan ini menempatkan Antonelli dalam posisi yang hampir tak tergoyahkan di klasemen. Dengan 16 seri tersisa, ia unggul 66 poin atas Hamilton dan 68 poin atas Russell yang kini turun ke posisi ketiga. Russell, yang start dari posisi ketiga, harus menjalani penalti drive-through karena pelanggaran teknis saat restart, membuatnya finis di luar zona poin. Sementara itu, Leclerc menolak mengakui kesalahannya dan menyalahkan kondisi lintasan yang rusak, meskipun rekaman menunjukkan ia kehilangan kendali saat melintasi trotoar.
Di belakang, Sergio Perez (Cadillac) finis ke-10 namun masih dalam investigasi karena posisi start yang tidak sesuai setelah red flag. Jika dihukum, poin terakhir akan jatuh ke tangan Fernando Alonso (Aston Martin) yang finis ke-11. Pertanyaan besar kini muncul: mampukah Antonelli mempertahankan konsistensinya hingga akhir musim, atau akankah ada kejutan dari Hamilton atau pebalap lain yang bisa mengubah peta persaingan?



