Jejak Saudara Kandung di Piala Dunia: Dari Walter hingga Laudrup
Baca dalam 60 detik
- Empat pasang saudara kandung telah mencetak gol di Piala Dunia, dimulai oleh Ottmar dan Fritz Walter pada 1954.
- Socrates dan Rai menjadi satu-satunya kakak-beradik yang sama-sama mencetak gol debut lewat penalti, melawan tim yang sama (Uni Soviet/Rusia).
- Hanya dua pasang saudara yang berhasil mengangkat trofi: Walter bersaudara (1954) dan Charlton bersaudara (1966).
Menjelang Piala Dunia 2026 yang tinggal empat hari lagi, FIFA merilis data statistik unik tentang saudara kandung yang pernah mencetak gol di turnamen akbar tersebut. Sepanjang sejarah, hanya empat pasang saudara yang namanya tercatat sebagai pencetak gol di Piala Dunia—sebuah prestasi langka yang membuktikan bahwa bakat sepak bola bisa menurun dalam satu keluarga.
Pasangan pertama adalah Ottmar Walter dan Fritz Walter, dua pilar utama Jerman Barat saat menjuarai Piala Dunia 1954. Keduanya menyumbang total tujuh gol, menjadikan mereka sebagai perintis tradisi saudara pencetak gol di panggung tertinggi sepak bola. Tak lama berselang, Belanda memiliki Willy dan Rene van de Kerkhof yang menjadi bagian dari skuad Oranje yang dua kali menjadi runner-up (1974 dan 1978). Keduanya sama-sama mencetak gol pada edisi 1978, meski Belanda kembali harus puas sebagai juara kedua.
Pasangan ketiga yang unik adalah Socrates dan Rai, dua kakak-beradik yang sama-sama menjadi kapten Brasil. Socrates membobol gawang Uni Soviet pada debutnya di Piala Dunia 1982, sementara Rai melakukan hal serupa melawan Rusia pada 1994—keduanya lewat tendangan penalti di babak kedua. Kebetulan ini menjadi salah satu fakta paling menarik dalam statistik saudara kandung di Piala Dunia. Sementara itu, Michael dan Brian Laudrup menjadi pasangan terakhir yang mencetak gol. Michael mencetak satu gol di 1986 dan 1998, sedangkan Brian dua gol di Prancis 1998.
Bagi Indonesia, catatan ini mengingatkan bahwa belum ada pemain Tanah Air yang berlaga di Piala Dunia, apalagi mencetak gol. Namun, dengan semakin banyaknya pemain keturunan Indonesia yang merumput di Eropa, bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan lahir saudara kandung yang mewakili Indonesia di turnamen akbar. Regulasi naturalisasi yang longgar dan program diaspora bisa menjadi pintu masuk bagi talenta muda berbakat.
Menariknya, hanya dua pasang saudara yang berhasil mengangkat trofi juara: Walter bersaudara pada 1954 dan Jack serta Bobby Charlton pada 1966. Ini menunjukkan bahwa memiliki saudara di tim nasional bukan jaminan kesuksesan, melainkan bonus langka yang membutuhkan sinergi sempurna. Ke depannya, mampukah pasangan saudara seperti Kylian dan Ethan Mbappé atau Marcus dan Reece James mengulangi prestasi tersebut di Piala Dunia 2026?



