Leinster Lolos ke Final URC Usai Taklukkan Stormers dalam Laga Penuh Drama
Baca dalam 60 detik
- Leinster mengalahkan Stormers 17-12 di semifinal United Rugby Championship melalui try kritis Jamison Gibson-Park di menit akhir.
- Kartu merah Ruan Ackermann akibat tekel berbahaya menjadi titik balik yang menguntungkan tuan rumah setelah Stormers sempat mendekat.
- Final URC akan mempertemukan Leinster dengan Bulls untuk kedua kalinya berturut-turut, kali ini di Croke Park pada 19 Juni.

Leinster memastikan tiket ke final United Rugby Championship (URC) untuk musim kedua beruntun setelah menundukkan Stormers dalam semifinal sengit di Aviva Stadium, Dublin, Sabtu (14/6). Try kritis Jamison Gibson-Park pada 10 menit terakhir menjadi pembeda dalam laga yang diwarnai kartu merah dan insiden kontroversial.
Tim asuhan Leo Cullen itu unggul cepat 13-0 melalui try Rieko Ioane dan dua penalti Sam Prendergast. Namun, Stormers yang tampil tanpa playmaker andalan Sacha Feinberg-Mngomezulu perlahan bangkit. Try Adre Smith dan penalti Jurie Matthee memangkas jarak menjadi 13-8 sebelum jeda, yang diwarnai keributan di lorong menuju ruang ganti.
Memasuki babak kedua, Stormers semakin menekan. Matthee kembali menambah tiga poin, memperkecil ketertinggalan menjadi 13-11. Namun, momentum berbalik ketika Ruan Ackermann mendapat kartu kuning yang kemudian ditingkatkan menjadi kartu merah 20 menit akibat tekel berbahaya ke kepala Ronan Kelleher. Pelatih Stormers, John Dobson, secara terbuka meminta maaf atas insiden tersebut. "Kartu itu menghancurkan kami. Kami tidak ingin melihat hal seperti itu dalam rugby," ujarnya kepada Premier Sports.
Dengan keunggulan jumlah pemain, Leinster memanfaatkan situasi. Gibson-Park menerobos pertahanan Stormers yang kelelahan untuk mencetak try penentu. Kartu kuning Salmaan Moerat karena menendang bola dari tangan Gibson-Park semakin mempersulit tim tamu, yang harus bermain dengan 13 orang di 10 menit terakhir. Leinster pun mengamankan kemenangan 17-12.
Kapten Leinster, Caelan Doris, mengakui pertandingan berjalan ketat. "Ini laga knockout sejati. Ada beberapa peluang di akhir babak pertama yang seharusnya bisa kami konversi. Pujian untuk Stormers," katanya. "Senang dengan hasil akhirnya; mencapai final lagi adalah kehormatan besar bagi tim."
Kemenangan ini menjadi pelepas dahaga bagi Leinster yang baru saja mengalami kekecewaan di final Champions Cup, kalah dari Bordeaux-Begles. Pekan lalu, mereka bangkit dengan kemenangan telak 59-10 atas Lions di perempat final. Namun, persiapan mereka tidak mulus: spekulasi masa depan James Lowe dan keraguan Jacques Nienaber sempat menimbulkan ketidakpastian.
Di sisi lain, Bulls memastikan tempat di final setelah menaklukkan Glasgow Warriors 22-21 di Murrayfield. Final nanti akan menjadi ulangan musim lalu, di mana Leinster keluar sebagai juara. Pertandingan diprediksi berlangsung ketat mengingat kedua tim sama-sama dalam performa apik.
Bagi Stormers, kekalahan ini menjadi pahit mengingat mereka pernah menang 35-0 atas Leinster di awal musim. Namun, absennya Feinberg-Mngomezulu dan kartu merah Ackermann menjadi faktor krusial. Pelajaran berharga bagi tim asuhan Dobson untuk memperbaiki disiplin di masa depan.
Dengan final yang tinggal menunggu waktu, pertanyaan besarnya: mampukah Leinster mempertahankan gelar di hadapan pendukung sendiri, atau Bulls akan membalas dendam kegagalan musim lalu?



