Pabrik Mitsubishi Heavy Jadi Pusat Perakitan Jet Tempur Generasi Baru Tiga Negara
Baca dalam 60 detik
- Mitsubishi Heavy Industries ditunjuk sebagai pusat pengembangan dan perakitan jet tempur GCAP di Jepang, dengan pusat Inggris di Warton dan Italia di Turin.
- Program trilateral ini menargetkan jet mulai beroperasi pada 2035, menggantikan F-2 Jepang, dengan teknologi siluman dan AI analisis data.
- Indonesia perlu mencermati kerja sama pertahanan ini sebagai peluang alih teknologi atau tantangan keseimbangan kekuatan di Asia Pasifik.

Pabrik Mitsubishi Heavy Industries di Komaki, Prefektur Aichi, Jepang, akan menjadi pusat pengembangan dan perakitan jet tempur generasi baru hasil kerja sama Jepang, Inggris, dan Italia. Langkah ini menandai babak baru dalam proyek Global Combat Air Program (GCAP) yang bertujuan menghadirkan pesawat tempur siluman pada 2035.
Menurut sumber yang dekat dengan proyek, pusat Inggris akan berlokasi di Warton, sementara Italia memilih Turin. Para insinyur Inggris dilaporkan sudah mulai bekerja di pabrik Komaki untuk merancang pesawat tersebut. Mitsubishi Heavy, yang sebelumnya menghentikan proyek pesawat penumpang regional MRJ, kini menjadikan pengembangan jet tempur sebagai bisnis inti.
Ketiga negara sepakat meluncurkan GCAP pada 2022 di tengah meningkatnya ketegangan keamanan global. Kanada menjadi negara pengamat pertama yang bergabung, sementara Jerman dan Australia menyatakan minat. Jet tempur ini direncanakan menggantikan armada F-2 milik Japan Air Self-Defense Force yang mulai dipensiunkan sekitar 2035.
Desain dan pengembangan pesawat akan dikelola oleh Edgewing, perusahaan patungan yang dibentuk oleh Japan Aircraft Industrial Enhancement Co. Ltd., BAE Systems asal Inggris, dan Leonardo asal Italia. Teknologi yang diusung meliputi kemampuan siluman, radar canggih untuk mengumpulkan data, serta analisis data berbasis kecerdasan buatan.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan GCAP menawarkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, Indonesia yang tengah memodernisasi alutsista dapat menjajaki kerja sama serupa, misalnya melalui skema observasi atau transfer teknologi. Namun di sisi lain, kehadiran jet tempur generasi baru di kawasan Asia Pasifik berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan, mendorong Indonesia untuk mempercepat program sendiri, seperti KF-21 Boramae yang dikembangkan bersama Korea Selatan.
Pakar pertahanan menilai bahwa Indonesia perlu membangun kemitraan strategis yang seimbang, tidak hanya bergantung pada satu negara. Program GCAP yang melibatkan tiga negara besar bisa menjadi model konsorsium yang menarik, namun kompleksitas teknis dan politiknya perlu dicermati.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia akan memilih bergabung sebagai pengamat atau tetap pada jalur pengembangan independen. Keputusan ini akan mempengaruhi postur pertahanan Indonesia dalam satu dekade ke depan, seiring meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Indo-Pasifik.



