Andrea Pirlo dan Prioritas Pertama di Nations League: Ujian Berat di Grup Neraka
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo segera ditunjuk sebagai pelatih baru timnas Italia setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan nama-nama besar seperti Guardiola dan Ancelotti.
- Tugas langsung Pirlo adalah memimpin Italia di Nations League grup A yang berisi Prancis, Belgia, dan Turki, dengan jadwal padat September hingga November.
- Hasil Nations League akan memengaruhi peringkat FIFA Italia yang kini berada di posisi terendah sejak 2019, dan menentukan unggulan mereka di turnamen besar mendatang.

Andrea Pirlo bersiap duduk di kursi pelatih timnas Italia, dan tugas pertamanya bukanlah perkara ringan: menjinakkan tiga raksasa Eropa di ajang Nations League. Penunjukan mantan gelandang Juventus dan AC Milan ini dikonfirmasi oleh berbagai laporan dalam 24 jam terakhir, menutup masa kekosongan yang berlangsung sejak mundurnya Gennaro Gattuso usai kekalahan dari Bosnia pada play-off Piala Dunia pertengahan Maret lalu.
Proses perburuan pelatih Italia tergolong dramatis. Direktur teknis FIGC Paolo Maldini terbang ke Barcelona untuk membujuk Pep Guardiola, setelah sebelumnya merayu Carlo Ancelotti. Nama-nama seperti Antonio Conte dan Roberto Mancini juga sempat mencuat. Namun akhirnya, pilihan jatuh pada Pirlo—sosok yang dinilai mewakili masa depan meskipun pengalaman melatihnya terbatas. Tidak semua pihak menyambut antusias; sebagian meragukan kesiapan Pirlo menangani tim yang masih dalam masa transisi.
Proyek ini dirancang untuk jangka panjang, butuh 8 hingga 10 tahun untuk mengembalikan Italia ke papan atas sepak bola dunia,ujar Maldini dalam beberapa kesempatan. Namun, ia juga sadar bahwa Pirlo memiliki target jangka pendek yang tak bisa ditawar: performa di Nations League.
Italia tergabung di Grup A Nations League—grup yang bisa disebut 'grup neraka' bersama Prancis, Belgia, dan Turki. Laga-laga ini bukan hanya soal kebanggaan, melainkan juga berkaitan langsung dengan posisi Italia di peringkat FIFA. Saat ini Azzurri berada di urutan 15, posisi terendah dalam enam tahun terakhir. Jika hasil positif tak segera diraih, bukan tidak mungkin peringkat mereka melorot lebih dalam, yang bakal mempengaruhi status unggulan di drawing kualifikasi Piala Dunia mendatang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Italia adalah salah satu tim favorit di Tanah Air, dan perombakan pelatih nasional yang dilakukan FIGC bisa menjadi cermin bagi PSSI dalam merancang regenerasi kepelatihan timnas. Langkah berani menugaskan pelatih muda seperti Pirlo dengan proyek multi-tahun patut diapresiasi, namun juga menunjukkan bahwa target jangka pendek tetap menjadi prioritas—sebuah keseimbangan yang kerap sulit dicapai.
Akankah Pirlo mampu menjawab keraguan? Pertandingan pertama melawan Turki pada September akan menjadi ujian awal. Dari sana, Italia akan segera dihadapkan pada duel melawan Belgia dan Prancis. Jika gagal, tekanan publik bisa menggerus proyek jangka panjang yang baru saja dibangun.



