Populasi Asian Openbill Melonjak di Batuli Pokhari, Surga Bersarang Musiman yang Terancam Pestisida
Baca dalam 60 detik
- Jumlah sarang Asian openbill di lahan basah Batuli Pokhari meningkat 16,6% dalam setahun, dari 410 menjadi 478.
- Koloni ini beralih ke habitat buatan manusia karena gangguan predator dan pertanian, menunjukkan adaptasi spesies.
- Penggunaan pupuk kimia dan pestisida di sekitarnya mengancam populasi siput yang menjadi makanan utama burung ini.

Musim hujan tahun ini, Batuli Pokhari di kawasan hutan Barandabhar, Nepal, berubah menjadi pusat perkembangbiakan Asian openbill (Anastomus oscitans). Ratusan burung tersebut membangun sarang di atas ranting-ranting kering yang menjulang di permukaan danau, mengubah area basah yang tenang menjadi arena bersarang yang ramai.
Gajendra Pokharel, anggota Bird Education Society yang telah memantau wilayah itu selama bertahun-tahun, mencatat lonjakan jumlah sarang. "Dua tahun lalu ada 410 sarang, tahun lalu menjadi 478. Tahun ini kami belum menghitung karena proses pembuatan sarang masih berlangsung," ujarnya. Beberapa sarang bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda kehadiran anak burung.
Fenomena ini relevan dengan kondisi Indonesia, di mana burung air seperti bangau dan ibis juga sering bersarang di lahan basah buatan, seperti sawah atau rawa-rawa yang tergenang. Spesies serupa, seperti ibis putih dan sandanglawe, juga terancam oleh alih fungsi lahan dan penggunaan pestisida. Di Nepal, Asian openbill memilih Batuli Pokhari karena ketersediaan makanan—terutama siput—dan minimnya gangguan manusia. Namun, ancaman serupa menghantui: pemakaian pupuk kimia dan pestisida di ladang-ladang sekitar perlahan merusak sumber pangan utama mereka.
Pokharel menggarisbawahi bahaya tersebut. "Makanan mereka bergantung pada siput yang ada di rawa dan sawah. Pestisida tidak hanya membunuh hama, tapi juga organisme yang menjadi pakan burung ini," jelasnya. Burung ini juga memangsa ular kecil, katak, dan serangga lain, sehingga dianggap sebagai sekutu petani. Ironisnya, praktik pertanian modern justru mengancam keberadaan mereka.
Kisah Batuli Pokhari sendiri bermula dari inisiatif warga lokal. Apil Ghimire, pegiat konservasi sungai dan lahan basah, menuturkan bahwa masyarakat Ganganagar mulai melindungi saluran air kecil di dalam hutan lindung untuk irigasi. Air yang terkumpul kemudian menjadi habitat ideal bagi burung. Pohon-pohon yang mati akibat genangan air itu justru menjadi lokasi bersarang yang aman dari predator seperti ular dan biawak.
Burung jantan dan betina bekerja sama membangun sarang dan mencari makan. Betina mengerami telur sementara jantan menjaga dan memberi makan. Siklus ini berlangsung hingga anak burung mandiri pada akhir musim hujan. Menurut Pokharel, proses perkembangbiakan biasanya rampung pada September atau awal Oktober.
Keberhasilan koloni Asian openbill di Batuli Pokhari menjadi contoh bahwa lahan basah buatan manusia dapat mendukung keanekaragaman hayati. Namun, dengan intensifikasi pertanian yang terus meningkat, mampukah habitat ini bertahan menjadi tempat bersarang yang lestari? Tanpa pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, lonjakan populasi saat ini bisa menjadi kenangan belaka.



