Malaysia Kucurkan RM50 Miliar untuk TVET 2.0, Fokus pada AI dan Energi Terbarukan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia mengalokasikan RM50 miliar dari dana PTPK untuk pengembangan TVET 2.0 yang menitikberatkan pada kecerdasan buatan, kriptologi, dan transisi energi.
- Perdana Menteri Anwar Ibrahim menekankan perlunya keterlibatan aktif sektor swasta untuk menutup kesenjangan antara kebutuhan industri dan standar pelatihan saat ini.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya Malaysia menjadikan TVET sebagai pilar utama pengembangan tenaga kerja, sejalan dengan anggaran RM650 miliar dalam APBN 2026.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengumumkan alokasi tambahan sebesar RM50 miliar untuk memperkuat pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasional (TVET), dengan fokus pada sektor-sektor baru seperti kecerdasan buatan (AI), kriptologi, dan transisi energi. Langkah ini menandai babak baru dalam strategi pengembangan sumber daya manusia Malaysia, yang kini tidak lagi menganggap jalur vokasional sebagai pilihan kelas dua.
Dana tersebut berasal dari program High-Impact Programme di bawah Skills Development Fund Corporation (PTPK). Namun, Anwar menegaskan bahwa dana ini harus diimbangi dengan partisipasi aktif dari pengusaha dan pemangku kepentingan industri. โDana telah disetujui untuk pengembangan TVET 2.0, tetapi harus dipadukan dengan keterlibatan aktif dari pemberi kerja dan pelaku industri,โ ujarnya dalam perayaan Hari TVET Nasional 2026 di Petaling Jaya.
Alokasi ini merupakan bagian dari anggaran yang lebih besar, yakni RM650 miliar yang disiapkan dalam APBN 2026 untuk pengembangan bakat nasional, TVET, dan peningkatan keterampilan industri. Malaysia menargetkan sistem TVET-nya menjadi salah satu yang terdepan di ASEAN, setelah mengalami transformasi pesat dalam tiga tahun terakhir.
Anwar mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kebutuhan industri dan standar pelatihan saat ini. Meskipun universitas lokal memiliki kekuatan di bidang teknik, termasuk IT dan kriptografi, diskusi dengan perusahaan seperti Nvidia, Infineon, dan Amazon Web Services menunjukkan bahwa tingkat pelatihan masih belum memenuhi persyaratan industri. โInvestor secara konsisten menekankan perlunya tenaga kerja terampil yang lebih kuat, memperkuat urgensi untuk memperluas kapasitas TVET,โ katanya.
Pemerintah Malaysia juga mendorong perusahaan untuk lebih bertanggung jawab dalam menyediakan pelatihan terstruktur, tidak hanya mengandalkan dana pemerintah. โJika mereka membutuhkan 60 insinyur dalam dua tahun, mereka harus membantu melatihnya sekarang,โ tegas Anwar. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha.
Bagi Indonesia, pengalaman Malaysia ini menjadi relevan mengingat Indonesia juga tengah mendorong revitalisasi pendidikan vokasi. Dengan bonus demografi yang masih besar, Indonesia perlu memastikan bahwa lulusan SMK dan politeknik memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri 4.0, termasuk AI dan energi terbarukan. Kolaborasi dengan sektor swasta dan penyesuaian kurikulum secara berkala menjadi kunci agar tenaga kerja Indonesia tidak tertinggal di era disrupsi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa perusahaan benar-benar berpartisipasi aktif, bukan sekadar menjadi penonton. Apakah model TVET 2.0 Malaysia mampu menjadi cetak biru bagi negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah berani ini setidaknya menunjukkan bahwa pendidikan vokasional kini dipandang setara dengan jalur akademik.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415707/original/054008200_1763395277-IMG-20251117-WA0027.jpg)