Ollie Robinson Kembali Ganas, Inggris Selangkah Lagi Taklukkan Selandia Baru di Lord's
Baca dalam 60 detik
- Ollie Robinson memborong dua wicket kunci pada hari ketiga yang diguyur hujan, membuat Selandia Baru tertinggal 199 run dari target 254.
- Performa impresif Robinson di Test pertamanya setelah dua tahun absen membantah anggapan bahwa gaya bowling medium pace tidak efektif di kriket kelas dunia.
- Cuaca cerah diprediksi pada hari Minggu, membuka peluang Inggris menyelesaikan kemenangan dan memulai era baru pasca-Ashes dengan positif.

Ollie Robinson kembali menjadi mimpi buruk bagi Selandia Baru. Dalam sesi singkat yang hanya berlangsung kurang dari 10 over akibat hujan deras di Lord's, Sabtu (1/6), pelempar cepat Inggris itu sukses menyingkirkan dua pilar utama tim tamu, Rachin Ravindra dan Daryl Mitchell, dan membawa timnya selangkah lagi meraih kemenangan pada Test pertama.
Robinson, yang tampil untuk pertama kalinya di kriket Test dalam lebih dari dua tahun, kini mengoleksi tujuh wicket dalam pertandingan ini. Setelah membukukan 5-39 pada inning pertama, ia kembali menunjukkan ketajamannya dengan 2-18 pada inning kedua. Alhasil, Selandia Baru terpuruk di 55-5, masih membutuhkan 199 run untuk mengejar target kemenangan 254 yang semakin sulit diraih.
Hujan yang mengguyur London sejak pagi membuat lapangan hanya bisa digunakan sekitar 70 menit. Namun, Robinson memanfaatkan sepenuhnya kondisi lembap di bawah lampu sorot untuk membuat bola bergerak tidak terduga. Ravindra, yang digadang-gadang sebagai penerus Kane Williamson, menjadi korban pertama. Bola Robinson yang masuk dari sudut sempit kemudian melesat keluar setelah memantul, membuat pertahanan Ravindra sia-sia dan menyentuh off stump. "Hampir tidak bisa dimainkan," demikian komentar para pengamat.
Kegagalan Ravindra di Test ini semakin lengkap. Selain hanya mencetak nol dan delapan run, ia juga melakukan dua tangkapan buruk yang sangat krusial dalam pertandingan dengan skor rendah seperti ini. Sementara itu, Mitchell yang menjadi korban kedua, harus pulang tanpa run setelah keputusan umpire's call memastikan bola mengenai kaki di depan stump. Kejadian ini menambah daftar panjang keputusan yang tidak berpihak pada Selandia Baru dalam laga ini.
Wicket Mitchell juga menjadi tamparan bagi teori yang selama ini dipegang oleh manajemen Inggris. Direktur Kriket Inggris, Rob Key, pernah menyatakan bahwa gaya bowling "75 mph, penjaga gawang maju, melempar di satu titik" tidak akan berhasil di kriket Test. Namun, Robinson justru membuktikan sebaliknya. Satu lemparan setelah penjaga gawang Jamie Smith maju ke dekat stump, Robinson memukul pad Mitchell. Review yang diajukan Mitchell tidak menyelamatkannya, dan ia frustrasi melihat bola hanya mengenai leg stump.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski kriket belum menjadi olahraga utama di Tanah Air, performa Robinson menunjukkan bahwa teknik klasik dan konsistensi masih bisa menjadi senjata ampuh di level tertinggi. Ini bisa menjadi pelajaran bagi pelempar-pelempar muda Indonesia yang kerap tergoda dengan kecepatan semata. Selain itu, dominasi Inggris di kandang sendiri kembali menegaskan betapa beratnya tantangan yang dihadapi tim tamu, termasuk jika suatu saat Indonesia berkesempatan berlaga di Lord's.
Cuaca cerah diprediksi pada hari Minggu. Jika tidak ada kendala, Inggris dipastikan akan menyelesaikan kemenangan dan memulai babak baru pasca-Ashes dengan langkah percaya diri. Pertanyaan besarnya: mampukah Selandia Baru memberikan perlawanan terakhir, atau akankah Robinson kembali menjadi bintang dengan lima wicket sekaligus?



