McCullum Yakin Kebangkitan Batting Stokes Hanya Soal Waktu
Baca dalam 60 detik
- Ben Stokes hanya mencetak 12 dan 0 pada Tes pertama melawan Selandia Baru, namun McCullum optimistis performanya akan segera membaik.
- Tekanan sebagai kapten dan minimnya kriket di luar Tes disebut sebagai faktor penurunan produktivitas batting Stokes.
- Pemindahan Stokes ke posisi tujuh diharapkan bisa mengurangi beban dan memaksimalkan kontribusinya sebagai all-rounder.

Pelatih kepala Inggris, Brendon McCullum, menyatakan keyakinannya bahwa kapten Ben Stokes tidak akan butuh waktu lama untuk kembali ke performa terbaiknya sebagai batsman. Meskipun hanya mencetak 12 dan 0 pada kemenangan Tes pertama melawan Selandia Baru di Lord's, McCullum menilai bahwa ritme dan kelancaran gerak Stokes perlahan mulai pulih.
Stokes, yang kini berusia 35 tahun, telah memimpin Inggris dalam 43 Tes. Namun, sejak menjabat kapten, rata-rata batting-nya menurun dari 36 menjadi 32, sementara rata-rata bowling-nya justru membaik dari 33 menjadi 28. Penurunan ini tidak terlepas dari tekanan sebagai kapten dan beban kerja sebagai all-rounder. Dalam upaya meringankan beban, Stokes memutuskan turun satu posisi ke nomor tujuh pada Tes pertama melawan Kiwi, bertukar tempat dengan penjaga gawang Jamie Smith.
McCullum menekankan bahwa Stokes adalah pemain yang rasional dan hanya mendengarkan masukan dari orang-orang terpercaya. "Jika Anda bisa memberikan argumen yang valid, dia akan menerimanya," ujar McCullum. Ia juga menambahkan bahwa Stokes telah bekerja keras dan gerakannya di lapangan terasa lebih baik. "Saya yakin dalam waktu dekat kita akan melihat angka-angka positif dari batting-nya," tegasnya.
Salah satu faktor yang memengaruhi performa Stokes adalah minimnya jam terbang di luar kriket Tes. Sejak The Hundred 2024, ia tidak bermain dalam format white-ball sama sekali. Dua pertandingan County Championship bersama Durham pada Mei lalu merupakan penampilan perdananya dalam dua tahun, setelah pemulihan dari patah tulang pipi. Setelah seri melawan Selandia Baru, Stokes tidak memiliki kesempatan bermain di Championship sebelum seri melawan Pakistan pada Agustus mendatang. Pelatih Durham, Ryan Campbell, menyarankan agar Stokes bisa bermain di One-Day Cup yang berlangsung bersamaan dengan The Hundred.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, perjalanan Stokes ini menjadi pengingat bahwa tekanan kepemimpinan dapat memengaruhi performa individu, bahkan bagi pemain sekaliber dia. Di tengah maraknya turnamen kriket internasional, termasuk Piala Dunia T20, kisah Stokes menyoroti pentingnya manajemen beban dan keseimbangan antara tanggung jawab kapten dan kontribusi pribadi. Apakah langkah turun ke posisi tujuh akan menjadi solusi jangka panjang, atau justru menandai perubahan peran Stokes dalam tim? Hanya waktu yang akan menjawab, namun McCullum tampaknya tidak ragu bahwa kaptennya akan segera bangkit.



