Granit Xhaka: Mimpi Besar di Piala Dunia 2026, dari Sunderland ke Amerika
Baca dalam 60 detik
- Kapten Timnas Swiss Granit Xhaka akan tampil di Piala Dunia keempatnya pada 2026, dengan ambisi membawa timnya melangkah lebih jauh.
- Keputusan berani Xhaka pindah dari Bayer Leverkusen ke Sunderland pada 2025 terbukti sukses setelah membantu klub promosi ke Liga Europa.
- Swiss lolos kualifikasi tanpa terkalahkan dan akan menghadapi tantangan berat melawan Kanada di Vancouver pada fase grup.
Granit Xhaka, kapten tim nasional Swiss, menatap Piala Dunia 2026 dengan keyakinan penuh. Gelandang berusia 33 tahun itu akan tampil di panggung akbar sepak bola untuk keempat kalinya, setelah Brasil 2014, Rusia 2018, dan Qatar 2022. Dengan 12 penampilan di Piala Dunia—rekor nasional—Xhaka menjadi sosok sentral yang memimpin generasi baru Swiss di Amerika Utara.
Lahir di Basel dari orang tua yang mengungsi dari Yugoslavia, Xhaka mengaku bangga bisa mewakili negara yang memberinya kesempatan. "Saya beruntung bisa bermain dengan nama-nama besar dan tim yang berprestasi. Tidak mudah untuk selalu lolos ke putaran final," ujarnya kepada FIFA. Perjalanan kariernya yang penuh risiko, termasuk kepindahan dari Bayer Leverkusen ke Sunderland pada Juli 2025, membuktikan bahwa ia tidak takut tantangan. "Banyak yang mengkritik saya pindah dari klub Liga Champions ke tim promosi. Tapi saya suka tantangan," tegasnya.
Keputusan itu terbayar lunas. Sunderland tidak hanya bertahan di Premier League, tetapi juga merebut tiket ke Liga Europa di hari terakhir musim. Xhaka, yang langsung diangkat sebagai kapten oleh pelatih Regis Le Bris, menjadi motor permainan tim. "Selama saya masih lapar untuk bangun pagi dan berkembang, Anda akan melihat saya di lapangan," katanya.
Swiss sendiri mengalami transformasi skuad. Generasi emas seperti Valon Behrami dan Stephan Lichtsteiner telah pergi, digantikan pemain muda berbakat. "Kami adalah tim yang benar-benar berbeda dari beberapa tahun lalu. Ada perpaduan baik antara pemain muda dan senior," kata Xhaka. Di bawah pelatih Murat Yakin, Swiss tampil solid di kualifikasi dengan pertahanan terbaik kedua setelah Inggris. Xhaka menjanjikan permainan tim yang kompak dan pantang menyerah hingga menit akhir.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Swiss di Piala Dunia 2026 menarik untuk diikuti. Selain persaingan ketat di Grup yang juga dihuni Kanada, Amerika Serikat, dan mungkin tim kuat lainnya, gaya bermain Swiss yang disiplin dan kolektif bisa menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan sepak bola nasional. Indonesia, yang tengah membangun timnas, dapat melihat bagaimana Swiss memadukan pengalaman dan talenta muda untuk bersaing di level tertinggi.
Xhaka juga memiliki kenangan manis di California. Pada Juli 2016, ia debut sebagai pemain pengganti dalam MLS All-Star Game di Bay Area, dan tiga hari kemudian bermain melawan Chivas di Los Angeles. Kini, sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke Golden State untuk laga pembuka Swiss. "Mendengar kata 'Los Angeles' saja sudah membuat Anda bersemangat. Orang-orang di sana sangat terbuka dan jujur," kenangnya.
Meski tenang, Xhaka mengaku masih memiliki ritual superstiti—selalu memakai pelindung kaki kanan terlebih dahulu—dan merasakan adrenalin sebelum pertandingan. "Itu bukan rasa takut, lebih seperti adrenalin. Selama saya merasakannya, saya bahagia. Begitu hilang, saya tidak akan ada di sini lagi," ujarnya.
Target Swiss jelas: lolos dari fase grup. Namun Xhaka tidak menampik ambisi yang lebih besar. "Saya suka bermimpi, dan saya bermimpi besar. Saya tidak akan mengucapkan kata yang ada di pikiran saya sekarang. Tapi Anda boleh bermimpi—itu baik untuk Anda," katanya misterius. Ia juga menepis anggapan bahwa Piala Dunia 2026 mungkin menjadi yang terakhir. "Selama saya masih lapar, bertekad, dan sehat, saya ingin terus bermain selama mungkin."
Dengan semangat petualang dan ambisius, Xhaka memimpin Swiss menuju sesuatu yang luar biasa. "Kami ingin mewujudkan mimpi kami—dengan mencapai sesuatu yang luar biasa," pungkasnya. Akankah Swiss akhirnya menembus batas yang selama ini menghalangi mereka? Piala Dunia 2026 akan menjadi jawabannya.



