Daniel Sturridge Pimpin Langsung Seleksi Talenta Muda Indonesia di Program Second Chance
Baca dalam 60 detik
- Mantan striker Liverpool dan Timnas Inggris, Daniel Sturridge, menjadi juri langsung dalam seleksi pemain di program pencarian bakat Second Chance di Bekasi.
- Dari 16 peserta yang sebelumnya tersingkir, hanya delapan yang lolos setelah melalui penilaian teknik, mental, dan karakter oleh Sturridge dan tim.
- Program ini menjadi bukti komitmen pengembangan sepak bola Indonesia dengan menghadirkan standar profesional global bagi talenta non-profesional.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8110986/original/065469500_1780960585-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_21.46.04.jpeg)
Mantan penyerang Liverpool dan Timnas Inggris, Daniel Sturridge, turun langsung ke lapangan Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, untuk memimpin seleksi pemain pada episode keempat program pencarian bakat Second Chance. Kehadirannya memberikan kesempatan kedua bagi 16 pemain yang sebelumnya tereliminasi untuk kembali membuktikan kemampuan di hadapan legenda sepak bola dunia.
Proses seleksi berlangsung ketat dengan dua sesi latihan intensif yang dirancang menyerupai lingkungan profesional. Sturridge, bersama tim kepelatihan dan Valentino Simanjuntak, menilai setiap peserta dari aspek teknik, pengambilan keputusan, mental bertanding, hingga karakter di lapangan. Hasilnya, hanya delapan pemain terbaik yang berhak melanjutkan perjalanan di program ini.
Second Chance merupakan inisiatif CuwitanDigital yang didukung EA SPORTS FC Mobile, menghadirkan 50 pemain non-profesional dari sepuluh daerah di Indonesia. Program ini tidak sekadar ajang seleksi, melainkan wadah pembinaan yang merekam seluruh proses dan menayangkannya di YouTube. Dengan standar penilaian setara klub Eropa, peserta dituntut menunjukkan performa maksimal di hadapan mantan pemain kelas dunia.
Keputusan akhir tidak diambil sepihak. Sturridge berdiskusi dengan tim pelatih dan Valentino Simanjuntak untuk mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menetapkan delapan nama. Hal ini menunjukkan bahwa seleksi dilakukan secara holistik, bukan hanya berdasarkan skill individu, melainkan juga potensi jangka panjang.
Menurut Project Lead Cuwitan Digital, Dyota Pratyaksa, program ini membuktikan bahwa bakat tidak terbatas pada latar belakang atau asal daerah. "Lapangan hijau menjadi tempat mimpi yang sempat tertunda mendapat napas baru, di bawah sorotan kamera, dengan standar profesional sesungguhnya," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk memberikan kesempatan setara bagi talenta muda Indonesia yang mungkin terlewatkan oleh jalur konvensional.
Kehadiran Sturridge menjadi sorotan utama, mengingat reputasinya sebagai mantan pemain Liverpool dan Chelsea yang pernah merasakan atmosfer Premier League. Pengalamannya di level tertinggi menjadi nilai tambah dalam menilai potensi pemain. Bagi peserta, kesempatan dinilai langsung oleh legenda seperti Sturridge adalah pengalaman langka yang bisa memacu semangat mereka.
Program Second Chance diharapkan menjadi katalis bagi pengembangan sepak bola Indonesia, terutama dalam menjaring bakat dari daerah yang minim akses. Dengan format yang transparan dan standar internasional, inisiatif ini bisa menjadi model bagi program serupa di masa depan. Pertanyaan selanjutnya: akankah talenta yang lolos seleksi ini mampu menembus level profesional dan memperkuat Timnas Indonesia?



