IPO SpaceX Rp1.300 Triliun Siap Pecahkan Rekor, Elon Musk Menuju Triliuner
Baca dalam 60 detik
- SpaceX akan menggelar IPO senilai US$75 miliar, melampaui rekor Aramco pada 2019.
- Valuasi perusahaan mencapai US$1,765 triliun, dengan harga saham awal US$135 per lembar.
- IPO ini berpotensi menjadikan Elon Musk triliuner pertama dan memicu konsolidasi dengan Tesla.

SpaceX, perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk, berencana menggelar penawaran umum perdana (IPO) terbesar dalam sejarah dengan target dana sekitar US$75 miliar atau setara Rp1.357 triliun. Langkah ini diproyeksikan menggeser rekor yang selama ini dipegang oleh raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, yang mengumpulkan US$25,6 miliar pada 2019.
Berdasarkan dokumen yang dikutip dari Deutsche Welle, SpaceX akan menawarkan 555,5 juta saham dengan harga awal US$135 per saham. Dengan jumlah saham beredar sekitar 13 miliar, valuasi perusahaan ditaksir mencapai US$1,765 triliun. Angka ini menjadikan SpaceX sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, bahkan sebelum resmi tercatat di bursa.
Keputusan SpaceX untuk mengumumkan harga saham secara publik seminggu sebelum IPO dinilai sebagai langkah tak lazim di Wall Street. Mekanisme ini membalikkan tradisi penentuan harga berdasarkan pasar, menunjukkan tekad Musk untuk mengumpulkan dana rekor dengan cara yang berbeda. Seorang investor yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters, "Tidak ada yang normal dari IPO ini. Tapi ini adalah IPO terbesar dalam sejarah, jadi mungkin itu tidak mengejutkan."
Kinerja SpaceX memang tak biasa. Pendapatan perusahaan melonjak 33% menjadi US$18,67 miliar pada 2025, meski masih mencatatkan kerugian bersih US$4,94 miliar. Rasio harga terhadap pendapatan (PER) mencapai 90 kali lipat, yang menurut Tim Hatt, kepala riset GSMA Intelligence, "sangat tinggi menurut standar apa pun. Tapi SpaceX tidak tradisional dan tidak ada perusahaan publik yang sebanding."
IPO ini juga berpotensi mengubah peta kekayaan global. Dengan kepemilikan saham signifikan di SpaceX, Elon Musk yang sudah menjadi orang terkaya di dunia diprediksi akan menjadi triliuner pertama dalam sejarah. Analis memperkirakan konsolidasi lebih lanjut dari kerajaan bisnis Musk pada 2027, termasuk kemungkinan penggabungan SpaceX dengan Tesla, perusahaan kendaraan listriknya, seiring fokus pada robotika dan transportasi otonom.
Bagi investor Indonesia, IPO SpaceX membuka peluang untuk berpartisipasi dalam perusahaan yang bergerak di sektor antariksa, telekomunikasi, dan pertahanan—sektor yang masih langka di bursa domestik. Meski demikian, risiko tetap ada mengingat valuasi yang tinggi dan kerugian yang masih berlanjut. Pasar modal Indonesia perlu mencermati bagaimana sentimen global terhadap saham teknologi dan kedirgantaraan ke depan, terutama jika SpaceX sukses melantai dan menjadi tolok ukur baru.
Pertanyaan besarnya, akankah investor ritel Indonesia kebagian jatah saham IPO spektakuler ini? Ataukah langkah Musk yang tidak konvensional justru membuat akses terbatas pada institusi besar? Waktu akan menguji apakah gebrakan ini akan menjadi tonggak sejarah atau sekadar gelembung yang meledak.



