Kisah Tang Wei: Remaja 19 Tahun Tidur di Bawah Jembatan Demi Biaya Kuliah
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemuda asal Hunan nekat bekerja sebagai kurir makanan 10 jam sehari demi menabung untuk biaya kuliah, meski harus tidur di kolong jembatan.
- Setelah kisahnya viral, warga Changsha dan perusahaan Sany Group memberikan bantuan tempat tinggal, makanan, dan pekerjaan tetap.
- Kisah ini menyoroti kerasnya perjuangan ekonomi generasi muda di China, sekaligus solidaritas sosial yang muncul di tengah kesulitan.

Seorang remaja berusia 19 tahun di China rela bekerja lebih dari 10 jam sehari sebagai kurir makanan, bahkan tidur di bawah jembatan, demi mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Kisah Tang Wei, pemuda asal Xinhuang, Hunan, ini menjadi sorotan setelah seorang wartawan Changsha Evening News melaporkan perjuangannya yang tak biasa.
Tang diterima di sebuah politeknik di Changsha dan akan memulai perkuliahan pada September mendatang. Dengan hanya bermodalkan 2.000 yuan (sekitar Rp4,3 juta) dan sepeda, ia menempuh perjalanan 100 kilometer ke ibu kota provinsi untuk mencari pekerjaan musim panas. Uangnya habis untuk membeli koper, tenda, kantong tidur, dan perlengkapan dasar.
Pekerjaan pertama yang ia dapatkan adalah sebagai pengantar makanan. Namun, penghasilannya di minggu pertama hanya 200 yuan (sekitar Rp430 ribu), dan separuhnya harus ia gunakan untuk mengganti goresan pada mobil seseorang akibat kecelakaan kecil dengan sepeda listriknya. Tang awalnya tidur di tenda di taman, tetapi sering diganggu preman yang mengobrak-abrik barangnya. Hujan deras di akhir Mei memaksanya pindah ke kolong jembatan.
Yang membuat kisah ini semakin mengharukan, Tang tidak sendirian. Ia ditemani seekor anjing kampung bernama Bobo, hadiah dari kakeknya saat anjing itu masih berusia kurang dari sebulan. βSaya lebih membutuhkannya daripada dia membutuhkan saya,β ujar Tang. Anjing itu menjadi teman setianya selama bekerja di jalanan.
Setelah kisahnya menyebar, warga Changsha ramai-ramai memberikan bantuan, mulai dari uang tunai hingga kebutuhan sehari-hari. Seorang relawan pecinta hewan, Wang Jing, bahkan menawarkan makanan anjing dan kandang, serta bersedia merawat Bobo jika Tang sibuk kuliah. Namun, bantuan terbesar datang dari Sany Group, perusahaan manufaktur alat berat setempat. Manajer bernama Fan menawari Tang pekerjaan jaga gudang selama tiga bulan dengan gaji ribuan yuan per bulan, plus makan dan tempat tinggal gratis. βDia tinggal di asrama kami, makan di kantin. Kamar ber-AC, Wi-Fi, dan air panas,β kata Fan.
Bagi Indonesia, kisah Tang Wei menjadi cermin perjuangan serupa yang dialami banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Di Indonesia, fenomena mahasiswa bekerja paruh waktu sebagai ojek online atau kurir juga marak, terutama di kota-kota besar. Namun, akses terhadap tempat tinggal layak dan perlindungan sosial masih menjadi tantangan. Kisah ini juga menunjukkan pentingnya peran komunitas dan perusahaan dalam meringankan beban pendidikan.
Tang sendiri bercita-cita menjadi sastrawan. Ia gemar membaca karya sastra dalam dan luar negeri. βSaya bertekad bekerja keras dan belajar keras. Suatu hari, jika saya mampu, saya akan membalas kebaikan kota Changsha yang hangat ini,β ujarnya. Pertanyaannya, apakah kisah seperti ini akan mendorong lebih banyak perusahaan di Indonesia untuk turun tangan membantu mahasiswa yang berjuang di tengah keterbatasan?



