John McGinn dan Misi Skotlandia: Bangkit dari Bayang-Bayang 28 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Aston Villa, John McGinn, menjadi motor utama kebangkitan Skotlandia menuju Piala Dunia 2026 setelah absen 28 tahun.
- Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan saat mengalahkan Denmark dan Norwegia menjadi fondasi kepercayaan diri skuad asuhan Steve Clarke.
- McGinn optimistis Skotlandia bisa melaju ke fase gugur, didukung pengalaman pemain di kompetisi Eropa dan dukungan fanatik Tartan Army.
John McGinn, gelandang serba bisa Aston Villa, menjadi simbol kebangkitan Skotlandia setelah nyaris tiga dekade absen dari panggung Piala Dunia. Dengan tekad baja dan pengalaman berharga di kompetisi Eropa, ia memimpin generasi baru Skotlandia yang percaya diri mampu menembus babak knockout di Amerika Serikat pada 2026.
McGinn bukanlah pemain yang langsung bersinar sejak awal. Ia memulai karier di St Mirren, klub kecil Skotlandia, sebelum pindah ke Hibernian dan akhirnya ke Aston Villa yang saat itu masih di divisi dua Inggris. Kini, delapan tahun kemudian, ia menjadi pilar utama baik di klub maupun tim nasional. Dengan 20 gol untuk Skotlandia, ia menduduki peringkat kelima pencetak gol sepanjang masa, unggul atas legenda seperti Ally McCoist dan hanya sepuluh gol di belakang Kenny Dalglish serta Denis Law.
“Jika Anda melihat skuad kami, banyak perjalanan luar biasa dan banyak kemunduran. Itu membuat kami lebih kuat,” ujar McGinn dalam wawancara dengan FIFA. Ia menekankan bahwa banyak pemain di ruang ganti yang pernah diremehkan—dianggap tidak cukup baik, terlalu kecil, atau tidak sesuai dengan profil pemain tertentu. “Tapi kami memiliki ketahanan, mentalitas, dan keyakinan pada diri sendiri. Kami tidak pernah menyerah.”
Semangat pantang menyerah itu terlihat jelas saat Skotlandia merebut tiket Piala Dunia lewat kemenangan dramatis 3-2 atas Denmark dengan dua gol di masa injury time. McGinn menyebut laga itu sebagai “hari tergila yang pernah saya alami di sepak bola.” Namun, ia justru mengingat pertandingan lain yang membuka matanya terhadap potensi tim: kemenangan 2-1 atas Norwegia di Oslo pada kualifikasi Euro 2024. “Kami dihajar selama 88 menit, tapi berhasil bangkit. Sejak saat itu saya tahu tim ini punya karakter besar.”
Koneksi McGinn dengan Piala Dunia 1998 bersifat personal. Kakeknya, Jack McGinn, saat itu menjabat Presiden Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA). “Saya berusia empat tahun. Kakek membawa pulang memorabilia, tapi saya tidak ingat apa pun tentang turnamen itu,” kenangnya. Kini, ia menjadi bagian dari generasi yang berusaha mengakhiri penantian panjang. “Sungguh gila sudah selama itu Skotlandia tidak tampil. Sangat menyenangkan bagi seluruh negeri.”
McGinn percaya timnya memiliki peluang nyata untuk melaju ke fase gugur, sesuatu yang belum pernah dicapai Skotlandia sepanjang sejarah. “Skuad ini memiliki fokus baja dan tekad untuk mencapai sesuatu yang belum pernah diraih tim Skotlandia sebelumnya,” katanya. Dengan banyak pemain yang berlaga di level tinggi Eropa, ia yakin pengalaman di laga-laga besar akan membuat mereka semakin matang. “Setiap momen besar yang kami lalui membuat kami semakin terbiasa dengan naik turunnya pertandingan.”
Dukungan luar biasa dari Tartan Army, suporter fanatik Skotlandia, menjadi energi tambahan. McGinn memuji perilaku suporter yang selalu tertib dan saling menjaga. “Mereka rela mengorbankan biaya, waktu kerja, dan perjalanan. Beberapa orang mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk mengikuti Skotlandia. Kami ingin memberi mereka momen tak terlupakan di Amerika,” pungkasnya.
Pertanyaan besarnya: akankah Skotlandia mampu memanfaatkan momentum ini untuk pertama kalinya melaju ke babak gugur Piala Dunia? Ataukah tekanan sejarah akan kembali membebani langkah mereka? Jawabannya akan terjawab di lapangan hijau Amerika Serikat pada 2026.



