Krisis West Ham: Tuduhan terhadap Pemilik Memperparah Ketidakpastian Klub
Baca dalam 60 detik
- David Sullivan mundur dari jabatan co-chair West Ham setelah tuduhan pelecehan seksual dari tujuh perempuan, namun tetap menjadi pemegang saham terbesar.
- Regulator Sepak Bola Independen Inggris menyelidiki kelayakan Sullivan, sementara klub menghadapi degradasi ke Championship dan kehilangan sejumlah eksekutif kunci.
- Daniel Kretinsky, miliarder Ceko, diprediksi meningkatkan pengaruhnya di West Ham di tengah kebutuhan mendesak akan stabilitas kepemilikan dan strategi promosi.

Krisis multi-dimensi melanda West Ham United setelah pemilik utama klub, David Sullivan, mundur dari jabatan co-chair pada 7 Juni lalu di tengah tuduhan pelecehan seksual yang melibatkan tujuh perempuan. Langkah ini terjadi saat klub London tersebut baru saja terdegradasi ke Championship setelah 14 tahun berlaga di Premier League, dan kini harus menghadapi investigasi dari Independent Football Regulator (IFR) terkait kelayakan Sullivan sebagai pemegang saham.
Tuduhan yang diungkap oleh BBC Panorama dan The Times ini menyebutkan bahwa miliarder berusia 75 tahun itu menyalahgunakan kekuasaannya untuk memangsa perempuan, termasuk yang masih berusia belasan tahun. Sullivan dengan tegas membantah semua klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "kebenaran yang salah secara faktual dan sepenuhnya palsu". Meski mundur dari jabatan operasional, ia masih menguasai 38,8% saham West Ham, menjadikannya pemegang saham terbesar.
Regulator sepak bola Inggris telah mengonfirmasi bahwa mereka "berkontak" dengan West Ham dan meminta "informasi mendesak" dari Sullivan terkait kepatuhannya terhadap uji kepemilikan, direktur, dan eksekutif senior. Departemen Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Inggris menilai tuduhan itu "sangat mengkhawatirkan" dan harus "diselidiki oleh otoritas terkait".
Di sisi lain, West Ham tengah berjuang keluar dari krisis finansial. Klub melaporkan kerugian sebesar Β£104,2 juta pada laporan keuangan terakhir hingga 31 Mei 2025, dan diperkirakan akan kembali merugi besar pada tahun fiskal 2026. Degradasi ke Championship dipastikan akan memperparah kondisi keuangan karena hilangnya pendapatan hak siar dan komersial Premier League.
Kepergian sejumlah eksekutif senior dalam beberapa bulan terakhir menambah kekacauan. Karren Brady, wakil ketua yang telah bekerja dengan Sullivan sejak 1993, mengundurkan diri pada April lalu. Direktur eksekutif Tara Warren dan Nathan Thompson juga telah pergi, begitu pula kepala rekrutmen Kyle Macaulay dan kepala rekrutmen teknis Max Hahn. Saat ini, Karim Virani menjabat sebagai CEO sementara, sementara sekretaris Andrew Pincher dan direktur keuangan Andy Mollett (yang akan pensiun Juli) masih bertahan.
Dalam situasi ini, perhatian beralih kepada Daniel Kretinsky, miliarder Ceko yang juga memiliki klub Sparta Prague dan menjadi pemegang saham terbesar di Sainsbury's serta Royal Mail. Dalam wawancara langka dengan podcast Ceko, Kretinsky menegaskan bahwa degradasi bukan alasan untuk meninggalkan West Ham. "Jika kami terdegradasi, saya akan mencari setiap jalan untuk memastikan West Ham kembali secepat mungkin ke Premier League," ujarnya. Ia juga tidak menutup kemungkinan untuk menambah kepemilikannya, yang saat ini mencapai 27%.
"West Ham United supporters want a club that reflects the values of decency, integrity and accountability," kata kelompok penggemar Hammers United. Mereka menekankan bahwa fokus utama harus pada para perempuan yang menjadi korban, bukan pada politik klub.
Di tengah semua ini, pelatih Nuno Espirito Santo tetap bertahan dan diharapkan mampu mengulangi prestasinya membawa Wolves promosi ke Premier League pada 2018. Latihan pramusim dijadwalkan mulai 6 Juli, dengan pertandingan persahabatan pertama akan diumumkan dalam waktu dekat. Musim 2026-27 akan dimulai dengan putaran pertama EFL Cup pada 8-9 Agustus, diikuti liga sepekan kemudian.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah Kretinsky mengambil alih kendali penuh West Ham? Atau akankah klub ini justru terpuruk lebih dalam di Championship? Jawabannya akan sangat menentukan masa depan klub yang pernah bermimpi menjadi kekuatan besar London itu.



