Surat dari Istri Jota: 'Andy, Bawa Mimpi Diogo ke Piala Dunia'
Baca dalam 60 detik
- Rute Cardoso, istri mendiang Diogo Jota, menulis surat emosional kepada Andy Robertson yang akan membela Skotlandia di Piala Dunia 2026.
- Jota dan Robertson sama-sama gagal tampil di Piala Dunia sebelumnya, dan kematian Jota pada 2025 membuat Robertson bertekad mewujudkan mimpi mereka berdua.
- Skotlandia tergabung di Grup C bersama Brasil, Maroko, dan Haiti; Robertson akan menjadikan semangat Jota sebagai penguat di setiap pertandingan.

Rute Cardoso, istri dari mendiang pemain sepak bola Portugal Diogo Jota, secara terbuka meminta Andrew Robertson, kapten timnas Skotlandia, untuk membawa mimpi almarhum suaminya saat berlaga di Piala Dunia 2026. Permintaan itu disampaikan dalam sebuah surat yang dirilis FIFA, menyusul pernyataan Robertson beberapa waktu lalu bahwa ia tak bisa melupakan sahabatnya itu setelah Skotlandia lolos ke putaran final.
Jota meninggal dunia dalam kecelakaan mobil pada Juli 2025 di usia 28 tahun, tak lama setelah membantu Portugal memastikan tiket ke Piala Dunia. Selama kariernya, ia mengoleksi 49 caps namun tak pernah sekali pun merasakan atmosfer Piala Dunia karena cedera betis membuatnya absen pada edisi 2022. Robertson pun bernasib serupa: ia gagal membawa Skotlandia ke Qatar. Keduanya sering bercerita tentang mimpi tampil di panggung terbesar sepak bola.
Dalam suratnya, Cardoso mengungkapkan bahwa Jota kerap menceritakan persahabatannya dengan Robertson—tentang pertempuran di lapangan, tawa, dan obrolan soal mimpi. “Saat saya mendengar kata-katamu dan mengetahui apa yang kau rasakan ketika Skotlandia lolos, saya sadar Diogo tak pernah benar-benar meninggalkan lapangan,” tulisnya. “Kau tak akan pergi sendirian. Kau akan membawa mimpinya juga. Dan saat kau melangkah ke lapangan, aku tahu bukan hanya dirimu yang berjalan keluar. Diogo akan bersamamu dalam pikiran, langkah, dan hatimu.”
Robertson, yang kini membela Tottenham Hotspur, mengaku terharu membaca surat tersebut. Dalam video yang direkam FIFA, ia berterima kasih kepada Cardoso dan mengatakan pesan itu akan melekat lama di ingatannya. “Aku akan membawanya di hatiku. Aku tahu dia akan bersamaku di pertandingan pertama, kedua, ketiga, dan semoga seterusnya,” ujar bek kiri berusia 31 tahun itu. “Kenangan selalu kami bicarakan—kadang tertawa, kadang menangis. Ini akan menjadi turnamen penuh emosi. Aku tidak hanya bermain untuk diriku sendiri, tapi untuk kami berdua.”
Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada mulai 11 Juni hingga 19 Juli. Skotlandia memulai perjuangan melawan Haiti pada 15 Juni, lalu menghadapi Maroko (19 Juni) dan Brasil (24 Juni). Bagi Robertson, turnamen ini bukan sekadar ajang pembuktian, melainkan juga penghormatan terakhir untuk sahabat yang tak sempat mewujudkan mimpi yang sama.
Kisah ini mengingatkan pada ikatan emosional yang kerap terjalin di antara pemain sepak bola, melampaui batas klub dan negara. Di Indonesia, di mana sepak bola memiliki basis penggemar yang besar, narasi persahabatan dan pengorbanan seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap lapangan hijau, ada cerita kemanusiaan yang menyentuh. Pertanyaan yang tersisa: akankah Robertson mampu mengubah beban emosional ini menjadi energi positif yang membawa Skotlandia melangkah lebih jauh dari yang pernah mereka capai?



