IHSG Ambruk 4,2%, Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 4,2% ke level 5.594,77, dengan 656 saham tertekan dan kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp9.807 triliun.
- Tekanan jual dipicu oleh pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah Rp18.000 per dolar AS, sebelum ditutup menguat tipis ke Rp18.010.
- Koreksi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup jatuh 245,01 poin atau 4,2% ke posisi 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026), membalikkan penguatan pagi hari dan menembus level psikologis 5.600. Tekanan jual besar-besaran terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah sepanjang masa.
Sebanyak 656 saham tercatat mengalami penurunan, sementara hanya 115 saham berhasil menguat dan 188 emiten stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp31,08 triliun, dengan hampir separuhnya berasal dari pasar negosiasi. Volume perdagangan juga tercatat tinggi, yakni 34,39 miliar saham berpindah tangan dalam 2,14 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar IHSG pun ambruk menjadi Rp9.807 triliun, menyusut signifikan dari hari sebelumnya.
Koreksi indeks saham ini tidak terlepas dari tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Sepanjang sesi, rupiah bergerak volatil di rentang Rp18.000 hingga Rp18.050 per dolar AS. Meski akhirnya ditutup menguat tipis 0,06% ke Rp18.010 per dolar AS berdasarkan data Refinitiv, penguatan tersebut belum mampu meredam aksi jual di pasar saham.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp18.020 per dolar ASโlevel terlemah dalam sejarah. Kondisi ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tekanan eksternal, termasuk kebijakan moneter global yang ketat.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stabil di level 99,258 pada pukul 15.00 WIB. Stabilitas dolar AS ini menjadi faktor eksternal yang turut menekan rupiah dan pasar saham Indonesia. Para analis menilai, sentimen risk-off masih mendominasi karena investor menunggu kejelasan arah suku bunga global dan data ekonomi Amerika Serikat.
Bagi investor Indonesia, koreksi IHSG kali ini menjadi pengingat akan kerentanan pasar domestik terhadap gejolak nilai tukar. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat meningkatkan beban impor dan inflasi, serta menekan laba emiten yang memiliki utang dalam dolar. Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah serta kebijakan fiskal pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah IHSG mampu bangkit kembali dalam waktu dekat, atau justru melanjutkan tren penurunan seiring tekanan rupiah yang masih tinggi?



