BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5%, Ekonom Peringatkan Rupiah Masih Berpotensi Tembus Rp18.500
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,5% pada 9 Juni 2026 sebagai langkah antisipatif terhadap tekanan global.
- Ekonom Danamon memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga 25 bps pada kuartal III-2026, seiring proyeksi The Fed yang hawkish.
- Rupiah diprediksi masih tertekan dan berpotensi melemah ke kisaran Rp18.300โ18.500 per dolar AS dalam jangka pendek hingga menengah.

Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada Selasa (9/6/2026), langkah yang dinilai ekonom sebagai upaya preventif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun, keputusan ini dinilai belum cukup untuk membendung pelemahan rupiah yang diperkirakan masih berlanjut.
Ekonom Bank Danamon, Faisal Rahman, menilai paket kebijakan yang dirilis BI kali ini menunjukkan sikap moneter yang lebih hawkish. Selain kenaikan suku bunga, BI juga memperketat likuiditas melalui kenaikan imbal hasil SRBI, penurunan biaya lindung nilai, perluasan fasilitas likuiditas, serta peningkatan intervensi di pasar valuta asing. "Langkah-langkah ini dirancang untuk menstabilkan rupiah, memulihkan kepercayaan investor, dan menarik modal asing," ujarnya dalam keterangan resmi.
Meski demikian, Faisal memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga lagi sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada kuartal ketiga tahun ini. Proyeksi ini didasarkan pada ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) juga akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada akhir 2026, seiring dengan sikap hawkish bank sentral AS. "BI kemungkinan akan mempertahankan bias pro-stabilitas untuk menjaga selisih suku bunga yang memadai dengan Fed Funds Rate, sehingga aset keuangan domestik tetap menarik bagi investor global," imbuh Faisal.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari eksternal. Di dalam negeri, kenaikan harga energi dan bahan bakar global berpotensi mendorong inflasi, memperburuk posisi fiskal, dan melebarkan defisit transaksi berjalan. Faisal mengingatkan bahwa risiko defisit kembar (twin deficit) semakin nyata. Dari sisi fiskal, penerimaan pemerintah yang lebih rendah dari target dapat membatasi ruang belanja, sementara belanja subsidi energi dan pembayaran bunga utang meningkat. Di sisi eksternal, biaya impor energi yang lebih tinggi dan kinerja ekspor yang lesu akibat perlambatan ekonomi global akan memperlebar defisit transaksi berjalan.
Akumulasi tekanan tersebut membuat rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan. Faisal memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mencapai titik terendah di kisaran Rp18.300 hingga Rp18.500 dalam jangka pendek hingga menengah. "Mata uang akan tetap berada di bawah tekanan," tegasnya.
Keputusan BI menaikkan suku bunga menjadi sinyal bahwa bank sentral serius menjaga stabilitas, namun efektivitasnya masih tergantung pada respons pasar global dan perkembangan kebijakan The Fed. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah langkah agresif BI cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor, atau justru memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik?



