FIFA Siapkan Dana Rp5,7 Triliun untuk Klub Peserta Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengalokasikan $355 juta (Rp5,7 triliun) untuk kompensasi klub yang melepas pemain ke Piala Dunia 2026 dan kualifikasinya.
- Dana per pemain per hari turun drastis menjadi $5.000, namun total peserta bertambah 16 tim sehingga potensi pembayaran lebih besar.
- Skema ini pertama kali mencakup babak kualifikasi, dengan nilai strategis bagi klub-klub Eropa yang menjadi pemasok utama pemain.

FIFA memastikan akan membayar kompensasi sebesar $355 juta (sekitar Rp5,7 triliun) kepada klub-klub yang melepas pemainnya untuk berlaga di Piala Dunia 2026 dan babak kualifikasi. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan edisi 2022 yang hanya $209 juta, seiring perluasan turnamen dari 32 menjadi 48 tim.
Program FIFA Club Benefit Programme, yang pertama kali diterapkan pada Piala Dunia 2010, menjadi instrumen utama untuk meredam resistensi klub terhadap agenda internasional yang padat. Untuk pertama kalinya, FIFA juga memberikan kompensasi untuk pertandingan kualifikasi, tidak hanya turnamen final. Langkah ini diambil setelah negosiasi dengan Asosiasi Klub Eropa (ECA) dan European Football Clubs (EFC).
Dari total dana $355 juta, sebesar $250 juta dialokasikan untuk turnamen final, $100 juta untuk kualifikasi, dan $5 juta sisanya untuk pengembangan sepak bola klub setelah dikurangi biaya administrasi. Setiap pemain yang masuk dalam skuad final akan menghasilkan $5.000 per hari bagi klubnya, terhitung sejak tanggal rilis resmi (25 Mei) hingga sehari setelah timnya tersingkir. Angka ini turun lebih dari setengah dibandingkan $10.950 per hari pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Meski tarif harian menurun, durasi turnamen yang lebih panjang—dengan 48 tim dan 104 pertandingan—berpotensi meningkatkan total pembayaran per klub. Tim yang mencapai final akan berada di turnamen selama 57 hari, termasuk sehari setelah laga puncak. Sebagai gambaran, pada Piala Dunia 2022, FIFA membayar $209 juta kepada 440 klub dari 51 negara. Dengan format baru, jumlah klub penerima diprediksi bertambah.
Bagi klub-klub Eropa yang menjadi pemasok utama pemain, program ini menjadi sumber pendapatan tambahan yang tidak bisa diabaikan. Namun, penurunan tarif harian menimbulkan kekhawatiran bahwa kompensasi tidak lagi sebanding dengan risiko cedera dan kelelahan pemain. Di sisi lain, FIFA berargumen bahwa peningkatan jumlah peserta dan durasi turnamen memberikan keuntungan lebih besar secara agregat.
Skema pembayaran juga mengatur situasi khusus seperti pemain yang kontraknya berakhir atau pindah klub selama turnamen. Jika seorang pemain menjadi agen bebas pada 30 Juni, klub lamanya hanya dibayar hingga tanggal tersebut, dan klub baru akan menerima sisa pembayaran. Contohnya, jika Andy Robertson pindah dari Liverpool ke Tottenham, Liverpool mendapat kompensasi hingga 30 Juni, Tottenham sejak 1 Juli. Ketentuan ini penting bagi klub-klub Eropa yang sering melakukan transfer di jendela musim panas.
Bagi Indonesia, meskipun tidak ada perwakilan di Piala Dunia 2026, skema ini relevan sebagai indikator tren global sepak bola. Klub-klub Asia, termasuk potensial dari Liga 1, bisa menjadi penerima manfaat di masa depan jika pemainnya menembus skuad nasional. Selain itu, kebijakan FIFA ini menegaskan semakin eratnya hubungan antara klub dan tim nasional, yang berimplikasi pada kalender kompetisi domestik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kenaikan total dana kompensasi sebanding dengan peningkatan beban klub akibat padatnya agenda internasional. Dengan Piala Dunia 2026 yang lebih panjang dan Piala Dunia Antarklub yang diperluas, klub-klub elite mungkin akan terus menekan FIFA untuk menaikkan tarif harian atau memberikan jaminan asuransi yang lebih baik.



