Leicester City Siapkan Rene Hake sebagai Alternatif Russell Martin
Baca dalam 60 detik
- Leicester City menjadikan mantan pelatih Southampton, Russell Martin, sebagai kandidat utama setelah degradasi ke League One.
- Klub juga memantau Rene Hake, asisten pelatih Feyenoord yang pernah diminati West Brom, sebagai opsi cadangan.
- Keputusan manajer baru akan menentukan kecepatan kebangkitan Leicester dari keterpurukan di kasta ketiga.

Leicester City tengah berada di persimpangan jalan setelah degradasi mengejutkan ke League One, dan pencarian manajer baru menjadi prioritas utama. Mantan bos Rangers, Russell Martin, disebut sebagai kandidat terdepan, namun klub tidak menutup pintu bagi alternatif lain, termasuk pelatih asal Belanda, Rene Hake.
Musim lalu menjadi mimpi buruk bagi The Foxes. Kegagalan Gary Rowett menyelamatkan tim dari degradasi kedua dalam tiga musim membuat manajemen harus bergerak cepat. Martin, yang pernah membawa Southampton promosi ke Premier League melalui play-off, dianggap memiliki filosofi sepak bola yang jelas dan pendekatan penguasaan bola yang diinginkan para petinggi klub.
Namun, negosiasi dengan Martin belum mencapai kata sepakat. Leicester sadar bahwa mereka tidak bisa bergantung pada satu kandidat saja. Oleh karena itu, nama Rene Hake mulai mencuat sebagai opsi serius. Menurut jurnalis Voetbal International, Joost Blaauwhof, Leicester telah menunjukkan minat pada Hake yang saat ini menjadi bagian dari staf kepelatihan Feyenoord.
Hake mungkin tidak setenar Martin di Inggris, tetapi ia memiliki pengalaman luas di sepak bola Belanda. Ia pernah bekerja di bawah Erik ten Hag di Manchester United, dan Ten Hag sendiri menyebut Hake sebagai pelatih yang ambisius dan bersemangat. Reputasinya terus meningkat berkat pengetahuan taktis dan kemampuannya mengembangkan pemain—kualitas yang sangat dibutuhkan Leicester dalam proyek pembangunan kembali.
Menariknya, West Brom sempat sangat menginginkan Hake sekitar satu setengah tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas Hake sudah diakui di Inggris. Bagi Leicester, memiliki opsi seperti Hake memberikan fleksibilitas jika pembicaraan dengan Martin menemui jalan buntu.
Konteks Indonesia: Meski berita ini murni sepak bola Inggris, ada pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap berganti pelatih. Proses rekrutmen yang matang, dengan mempertimbangkan filosofi dan rekam jejak, bisa menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Leicester, yang pernah juara Premier League, kini harus memulai dari nol—sebuah pengingat bahwa manajemen yang buruk bisa berakibat fatal.
Para penggemar Leicester mungkin belum akrab dengan Hake, tetapi ia membawa pengalaman berharga dari Eredivisie dan Premier League. Jika Martin gagal mencapai kesepakatan, Hake bisa menjadi pilihan yang cerdas untuk membangun identitas permainan yang jelas.
Keputusan manajer baru ini akan menjadi salah satu yang terpenting dalam sejarah klub. Kesalahan bisa memperpanjang masa sulit, sementara pilihan tepat bisa mempercepat kebangkitan. Apakah Leicester akan tetap setia pada Martin, atau justru memberikan kejutan dengan menunjuk Hake? Hanya waktu yang akan menjawab.



