Rivellino dan Para Penembak Jarak Jauh: Rekor yang Mungkin Tumbang di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Rivellino memegang rekor lima gol dari luar kotak penalti di Piala Dunia, disusul Forlán, Matthäus, dan Messi dengan masing-masing empat gol.
- Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada diprediksi menyaksikan lebih banyak gol spekulatif karena perubahan taktik dan fisik pemain.
- Indonesia, sebagai penggila sepak bola, bisa belajar dari statistik ini untuk mengembangkan pemain dengan kemampuan tembakan jarak jauh.
Lima hari menjelang Piala Dunia 2026, FIFA merilis data statistik yang menyoroti para pencetak gol terbanyak dari luar kotak penalti sepanjang sejarah turnamen. Brasil, melalui Roberto Rivellino, memuncaki daftar dengan lima gol jarak jauh, diikuti Diego Forlán (Uruguay), Lothar Matthäus (Jerman), dan Lionel Messi (Argentina) yang masing-masing mengoleksi empat gol. Catatan ini tidak hanya mengingatkan pada kehebatan individu, tetapi juga membuka diskusi tentang bagaimana sepak bola modern mengubah pola serangan dan peluang dari luar area terlarang.
Rivellino, yang dijuluki 'The Atomic Kick', mencetak gol-gol spektakulernya di Piala Dunia 1970 dan 1974. Tembakan kerasnya menghancurkan gawang Cekoslowakia, Uruguay, Zaire, Jerman Timur, dan Argentina. Satu gol lainnya, meski dari dalam kotak, tetap dikenang karena teknik luar biasa menggunakan sisi luar sepatu. Matthäus, di sisi lain, menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol dari luar kotak dengan kedua kaki dalam satu pertandingan Piala Dunia, tepatnya saat Jerman mengalahkan Yugoslavia 4-1 pada 1990.
Data ini relevan menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Turnamen dengan format 48 tim ini diprediksi menyajikan lebih banyak ruang dan transisi cepat, yang berpotensi meningkatkan jumlah tembakan jarak jauh. Analis sepak bola menilai bahwa pemain modern seperti Jude Bellingham atau Federico Valverde memiliki kemampuan teknis dan kekuatan fisik untuk menyaingi rekor Rivellino. Namun, taktik bertahan yang semakin rapat dan penggunaan kiper sebagai sweeper bisa menjadi penghalang.
Bagi Indonesia, statistik ini menjadi pengingat akan pentingnya pengembangan pemain dengan kemampuan tembakan jarak jauh. Liga Indonesia jarang menonjolkan gol-gol spekulatif, padahal di level internasional, kemampuan tersebut sering menjadi pembeda. Pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong, bisa mengambil inspirasi untuk melatih pemain seperti Egy Maulana Vikri atau Witan Sulaeman agar lebih berani melepaskan tembakan dari luar kotak. Sayangnya, minimnya data dan analisis di kompetisi domestik membuat potensi ini kurang tereksplorasi.
Pertanyaan besarnya: akankah rekor Rivellino bertahan setelah Piala Dunia 2026? Dengan semakin banyaknya pemain bertalenta yang lahir dari akademi modern, bukan tidak mungkin rekor itu terpecahkan. Namun, sepak bola tetap permainan kolektif; gol jarak jauh hanyalah salah satu senjata. Yang pasti, catatan ini menambah bumbu menjelang turnamen terbesar di dunia, dan Indonesia patut menyimak untuk memetik pelajaran berharga.



