Swiss di Piala Dunia 2026: Mampukah Xhaka dan Embolo Akhiri Puasa Kemenangan Fase Gugur?
Baca dalam 60 detik
- Swiss belum pernah memenangi laga knockout Piala Dunia sejak 1938, namun skuad saat ini dianggap paling solid dalam beberapa dekade.
- Granit Xhaka dan Breel Embolo menjadi tumpuan utama, dengan motivasi tinggi setelah nyaris menjungkalkan Inggris di Euro 2024.
- Pelatih Murat Yakin menargetkan performa terbaik sepanjang sejarah Swiss di Amerika Utara, didukung rekor kualifikasi sempurna.

Swiss datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban sejarah yang berat: sejak 1938, mereka tak pernah sekalipun memenangi pertandingan sistem gugur di turnamen sepak bola terbesar dunia. Namun, di balik catatan kelam itu, tersimpan optimisme yang belum pernah sebesar ini—didorong oleh generasi emas yang nyaris menembus semifinal Euro 2024.
Dalam tujuh edisi terakhir Piala Dunia, Swiss selalu kandas di babak 16 besar, termasuk kekalahan telak 6-1 dari Portugal pada 2022. Namun, pelatih Murat Yakin menilai timnya telah banyak belajar. “Perasaan bahwa kami bisa mencapai final Euro lalu memberi kami sesuatu untuk diimpikan,” ujarnya, merujuk pada kekalahan adu penalti dari Inggris di perempat final. Swiss lolos ke Piala Dunia 2026 dengan sempurna: tak terkalahkan di grup kualifikasi dan hanya kebobolan dua gol.
Kunci permainan Swiss ada di tangan Granit Xhaka, gelandang berusia 33 tahun yang akan tampil di Piala Dunia keempatnya. Musim ini ia membawa Sunderland—tim yang baru promosi ke Premier League—lolos ke kompetisi Eropa, sebuah pencapaian yang disebutnya sebagai buah dari keyakinan dan kerja keras. Di lini depan, Breel Embolo menjadi andalan utama. Striker kelahiran Kamerun itu adalah satu dari hanya lima pemain yang mencetak banyak gol di Piala Dunia 2022 dan Euro 2024.
Namun, Swiss bukannya tanpa celah. Dalam laga uji coba melawan Jerman pada Maret lalu, mereka kebobolan empat gol dan menunjukkan bahwa lini tengah terlalu bergantung pada Xhaka. Florian Wirtz menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Swiss, mengingatkan bahwa melawan tim papan atas, dukungan untuk Xhaka sangat krusial. Meski demikian, Yakin memiliki fleksibilitas taktik: formasi 4-2-3-1 atau tiga bek bisa diandalkan sesuai lawan.
Bagi Indonesia, perjalanan Swiss patut dicermati sebagai contoh bagaimana tim dengan sumber daya terbatas bisa konsisten tampil di turnamen besar. Dengan populasi hanya 8,7 juta jiwa, Swiss mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas yang bermain di liga top Eropa. Model pembinaan usia muda dan integrasi pemain imigran—seperti Embolo dan Dan Ndoye—bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan sepak bola nasional. Ndoye, yang baru pindah ke Nottingham Forest dengan nilai transfer £35 juta, diharapkan bisa menemukan performa terbaiknya setelah musim yang mengecewakan.
Swiss juga memiliki rekor unik: pada Piala Dunia 2006, mereka menjadi satu-satunya tim yang tidak kebobolan satu gol pun dalam satu turnamen, meski akhirnya tersingkir oleh Ukraina via adu penalti. Catatan defensif seperti itu menjadi modal berharga, terutama jika mereka mampu mempertahankan konsistensi seperti saat kualifikasi. Yakin sendiri menargetkan “Piala Dunia terbaik yang pernah dimainkan tim nasional Swiss.”
Pertanyaan besarnya: akankah Swiss akhirnya memecahkan kutukan fase gugur? Atau justru kembali terhenti di babak 16 besar seperti lima edisi sebelumnya? Dengan kombinasi pemain berpengalaman dan motivasi tinggi, Swiss layak diperhitungkan sebagai kuda hitam di Amerika Utara.



