Zidane dan Kepala Ajaib: Satu-satunya Pemain yang Mencetak Dua Gol Sundulan di Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Zinedine Zidane adalah satu-satunya pesepakbola yang berhasil mencetak dua gol sundulan dalam satu pertandingan final Piala Dunia, tepatnya saat membawa Prancis menaklukkan Brasil 3-0 pada 1998.
- Dua gol sundulan Zidane dalam 20 menit pertama final 1998 itu lebih banyak dari total sundulan gol Prancis di tiga edisi Piala Dunia berikutnya, yang hanya menghasilkan satu sundulan gol lewat Patrick Vieira.
- Prestasi unik Zidane ini mengingatkan bahwa kemampuan udara tak kalah penting dalam sepak bola modern, dan bisa menjadi inspirasi bagi pemain Indonesia yang kerap mengandalkan umpan silang.
Zinedine Zidane, legenda sepak bola Prancis, memegang rekor yang tak tertandingi hingga kini: ia adalah satu-satunya pemain yang mencetak dua gol sundulan dalam satu pertandingan final Piala Dunia. Prestasi itu ia torehkan pada 12 Juli 1998, saat Prancis menghancurkan Brasil 3-0 di Stade de France, Saint-Denis. Dua sundulan Zidane dari sepak pojok menjadi penentu kemenangan sekaligus mengukuhkan namanya dalam sejarah.
Gol pertama lahir pada menit ke-27 setelah umpan silang Emmanuel Petit dari sisi kiri disambut kepala Zidane yang melompat di antara dua bek Brasil. Hanya tujuh menit berselang, giliran Youri Djorkaeff yang mengirim bola dari sisi kanan, dan lagi-lagi Zidane menanduknya masuk ke gawang Claudio Taffarel. Dua gol sundulan dalam waktu 20 menit itu menjadi pukulan telak bagi Brasil yang dijagokan juara.
Yang menarik, jumlah gol sundulan Zidane di final 1998 itu lebih banyak dari total sundulan gol yang dicetak seluruh pemain Prancis di tiga edisi Piala Dunia berikutnya (2002, 2006, 2010). Dalam rentang waktu tersebut, hanya Patrick Vieira yang mampu mencetak gol sundulan untuk Les Bleus, tepatnya saat melawan Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2006. Fakta ini menunjukkan betapa langkanya kemampuan Zidane dalam memanfaatkan bola udara di momen krusial.
Meskipun Zidane lebih dikenal karena keahlian kakinya yang lincah, kemampuannya menyundul bola juga patut diperhitungkan. Sepanjang kariernya, ia mencetak gol sundulan melawan Republik Ceko, Malta, dan Swiss. Bahkan di final Piala Dunia 2006, sundulannya memaksa kiper Italia Gianluigi Buffon melakukan penyelamatan spektakuler. Satu-satunya pemain lain yang memiliki banyak gol sundulan di final Piala Dunia adalah Pele, namun pemain Brasil itu melakukannya di dua edisi berbeda: melawan Swedia (1958) dan Italia (1970).
Bagi sepak bola Indonesia, rekor Zidane ini bisa menjadi pelajaran berharga. Di level domestik, kemampuan sundulan sering menjadi andalan, terutama dari pemain bertinggi badan di atas rata-rata. Namun, presisi dan timing seperti yang ditunjukkan Zidane jarang terlihat. Klub-klub Indonesia bisa mencontoh latihan spesifik untuk meningkatkan akurasi sundulan, terutama dari situasi bola mati yang kerap menjadi peluang emas. Selain itu, kisah Zidane membuktikan bahwa pemain dengan reputasi kaki jenius pun bisa mengembangkan kemampuan udara yang mematikan.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, rekor Zidane ini menjadi pengingat bahwa momen-momen tak terduga sering kali lahir dari detail kecil. Akankah ada pemain yang mampu menyamai atau bahkan melampaui catatan Zidane di masa depan? Atau justru tim-tim seperti Indonesia yang mulai serius mengembangkan sepak bola bisa memanfaatkan kelemahan lawan melalui sundulan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



