37 Tahun Tragedi Tiananmen: Polisi Larang Keluarga Korban Ziarah Makam, Pengamanan Hongkong Diperketat
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah China melarang keluarga korban Tiananmen mengunjungi makam di Beijing pada peringatan ke-37, sebagai bagian dari upaya penghapusan memori publik.
- Di Hongkong, polisi meningkatkan keamanan di lokasi aksi lilin tahunan yang dilarang sejak 2020; tujuh orang diperiksa dan aktivis ditahan sementara.
- Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris mengkritik tindakan China, sementara Beijing mengecam intervensi asing dan menyebutnya sebagai campur tangan urusan dalam negeri.

Otoritas China kembali memperketat pengawasan pada peringatan 37 tahun tragedi Tiananmen, Kamis (5/6), dengan melarang keluarga korban mengunjungi makam di Beijing dan meningkatkan patroli keamanan di Hongkong. Langkah ini menegaskan kebijakan bertahun-tahun rezim untuk menghapus ingatan publik atas peristiwa berdarah 1989 yang menewaskan ratusan hingga ribuan orang.
Seorang sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut mengatakan polisi telah memberitahu kerabat korban bahwa mereka tidak diizinkan mendatangi pemakaman pada hari peringatan. Kelompok Tiananmen Mothers, yang selama lebih dari tiga dekade rutin membaca pernyataan di makam korban, kembali menjadi sasaran pembatasan. Amnesty International menyebut pelarangan ini sebagai tindakan keji yang menunjukkan eskalasi penindasan.
Di Hongkong, polisi berjaga di sekitar taman tempat aksi lilin tahunan yang dilarang sejak 2020. Hanya segelintir warga yang muncul, termasuk seorang pria membawa bunga dan aktivis yang mengaku membungkuk 37 kali. Tujuh orang dihentikan dan diperiksa karena dicurigai mengganggu ketertiban, lalu dibawa untuk penyelidikan lebih lanjut sebelum akhirnya dilepaskan. Aktivis Chan Po-ying, yang memegang bunga kertas kuning, sempat digiring ke dalam mobil polisi.
Reaksi internasional pun mengemuka. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan "tidak ada sensor yang bisa menghapus masa lalu" dan menegaskan mereka yang berkorban untuk kebebasan berekspresi akan terbukti benar suatu hari. Kedutaan AS di Hongkong memasang lilin elektronik di jendela. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar China Mao Ning mengecam pernyataan Rubio sebagai fitnah terhadap sistem politik China dan mendesak AS berhenti menggunakan dalih demokrasi untuk campur tangan urusan dalam negeri China.
Di Washington, sejumlah anggota Kongres, mantan pemimpin mahasiswa 1989, dan pendukung berkumpul di Capitol Hill. Arthur Liu, ayah juara seluncur indah Olimpiade Alysa Liu dan mantan aktivis, menyerukan publik untuk tidak melupakan mereka yang masih dipenjara karena aktivisme pro-demokrasi. Tiananmen Mothers dalam pernyataan tahunannya menuntut pengungkapan penuh, kompensasi, dan pertanggungjawaban hukum, menyebut pembantaian itu sebagai kejahatan.
Di Taiwan, aksi lilin tahunan tetap digelar meski hujan deras mengurangi jumlah peserta menjadi sekitar 200 orang. China, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, menjatuhkan sanksi kepada empat anggota parlemen Selandia Baru atas kunjungan mereka ke pulau tersebut. Langkah ini menambah ketegangan diplomatik di kawasan.
Pertanyaannya, sejauh mana China akan terus menekan memori publik di tengah pengawasan global yang semakin kritis? Dengan pendekatan yang semakin represif, Beijing tampaknya bertekad menutup lembaran sejarah, namun desakan dari dalam dan luar negeri terus menguji ketahanan narasi resmi.



