Krisis Kepemimpinan di Partai Terkuat India: Mamata Banerjee Kehilangan Cengkeraman
Baca dalam 60 detik
- Partai Trinamool Congress (TMC) mengalami pemberontakan besar-besaran dari legislator dan anggota parlemen hanya sebulan setelah kalah dalam pemilu negara bagian Benggala Barat.
- Keruntuhan cepat TMC disebabkan oleh ketergantungan pada karisma Mamata Banerjee dan patronase kekuasaan, tanpa fondasi ideologis yang kuat.
- Bangkitnya BJP sebagai kekuatan nasional dominan menyediakan alternatif bagi para pembelot, mempercepat disintegrasi partai-partai regional yang terpusat pada keluarga.

Hanya sebulan setelah kehilangan kekuasaan di Benggala Barat, Partai Trinamool Congress (TMC) yang dipimpin Mamata Banerjee menghadapi ancaman perpecahan terbesar dalam sejarahnya. Sekitar tiga perempat anggota legislatif negara bagian dan sebagian besar anggota parlemen di Delhi menyatakan pemberontakan, menandai krisis yang belum pernah terjadi bagi salah satu politisi perempuan paling sukses di India.
Kekalahan TMC dari Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Narendra Modi pada pemilu bulan lalu sebenarnya tidak telak. Partai itu masih mengumpulkan 26 juta suara—hanya tiga juta lebih sedikit dari BJP—dan menguasai 40 persen suara populer. Dengan 80 kursi di majelis negara bagian dan 28 anggota parlemen, TMC seharusnya masih menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan. Namun, alih-alih melakukan konsolidasi, partai justru mengalami keruntuhan internal yang dramatis.
Pemberontakan dimulai di majelis negara bagian, di mana para legislator TMC mengambil alih sayap legislatif partai, menunjuk pemimpin oposisi mereka sendiri, dan menuduh pimpinan partai memalsukan tanda tangan pada dokumen legislatif. Krisis kemudian merembet ke Delhi: sekitar 20 dari 28 anggota parlemen TMC dilaporkan telah menulis surat kepada ketua parlemen untuk memisahkan diri dari kelompok parlemen TMC dan bergabung dengan aliansi pimpinan BJP. Jika terwujud, langkah ini akan mengubah pemberontakan menjadi ancaman eksistensial bagi kepemimpinan Banerjee.
Menurut Dwaipayan Bhattacharyya, ilmuwan politik, kecepatan keruntuhan TMC menunjukkan kelemahan mendasar. Berbeda dengan gerakan komunis yang digulingkannya pada 2011, TMC tidak pernah membangun struktur ideologis yang kokoh. Partai ini bertumpu pada dua pilar: "nilai merek Mamata dan sumber daya pemerintah," kata Bhattacharyya. Banerjee lebih mengandalkan pemimpin lokal yang kuat dengan otonomi besar di wilayah masing-masing daripada institusi partai. Sistem itu berfungsi selama partai berkuasa, tetapi begitu kekuasaan hilang, para penguasa lokal kehilangan perlindungan dan insentif untuk bertahan.
Rahul Verma, peneliti di Centre for Policy Research di Delhi, menambahkan bahwa kebangkitan BJP sebagai kekuatan nasional yang dominan telah mengubah insentif bagi politisi regional. "Dulu, pembelotan cenderung dilakukan oleh individu. Sekarang, seluruh faksi bisa memberontak karena BJP menyediakan pusat kekuatan, sumber daya, dan perlindungan politik alternatif," jelas Verma. Pola serupa terlihat pada perpecahan partai Shiv Sena di Maharashtra, di mana perebutan suksesi dalam keluarga memicu pemberontakan besar-besaran.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan pelajaran berharga. Partai-partai politik di Indonesia juga kerap bergantung pada figur karismatik dan patronase kekuasaan, bukan pada ideologi atau kaderisasi yang kuat. Fenomena "pembelotan massal" pasca-pemilu bukanlah hal asing, seperti yang terjadi pada beberapa partai setelah Pilkada atau Pemilu Legislatif. Kehadiran partai dominan di tingkat nasional—mirip dengan posisi BJP di India—dapat mempercepat disintegrasi partai-partai regional yang tidak memiliki akar ideologis yang dalam.
Mamata Banerjee, yang kini berusia 71 tahun, tetap bersikap menantang. Ia menyebut kemenangan BJP sebagai "ilegal" dan "tidak bermoral", serta menuduh sekitar 100 kursi "dirampok". Ia juga mengecam pemberontakan sebagai oportunisme telanjang. "Selama ini, beberapa orang menikmati kekuasaan, dan sekarang setelah kita kalah, mereka segera mencapai kesepakatan dengan partai lain," ujarnya pekan lalu. Banerjee berjanji akan membangun kembali partai dari awal, menegaskan bahwa TMC bukan untuk para pemimpinnya, melainkan untuk para kader.
Namun, para analis meragukan bahwa karisma semata cukup untuk menyelamatkan TMC. Bhattacharyya berpendapat bahwa kebangkitan partai memerlukan pembaruan organisasi dan keputusan sulit mengenai kepemimpinan—sesuatu yang selama ini bukan keunggulan Banerjee. "Ia masih bisa bangkit kembali. Jika ada satu wajah di Benggala yang masih menarik perhatian dan satu suara yang tidak bisa diabaikan, itu adalah suaranya," kata Bhattacharyya. Namun, ia menambahkan bahwa tugas kali ini berbeda: menjatuhkan pemerintah adalah satu hal, membangun kembali partai yang ditinggalkan oleh pemimpinnya sendiri adalah hal lain.
Pertanyaan besarnya, akankah pemberontakan ini mereda atau justru menjadi awal dari akhir bagi TMC? Jika para anggota parlemen yang kini mendukung perpecahan tetap pada pendiriannya, krisis ini bisa menjadi lebih dahsyat dari perkiraan awal. Namun, menulis Banerjee terlalu dini. Sepanjang kariernya, ia telah berulang kali membalikkan keadaan. Kini, ia menghadapi ujian terberat: mempertahankan partai yang ia dirikan dari kehancuran total.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8142912/original/079639300_1780995356-Koperasi_Merah_Putih_dibangun_di_lahan_SD.jpg)

