Menag Dorong Pesantren Cetak Pemimpin Profesional dan Adaptif di Era Digital
Baca dalam 60 detik
- Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pesantren tak cukup hanya melahirkan pemimpin kharismatik, melainkan juga harus menghasilkan manajer profesional yang adaptif terhadap teknologi.
- Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren diarahkan untuk mempertahankan identitas keilmuan khas pesantren sekaligus menjawab kebutuhan zaman.
- Menag mengingatkan pesantren memiliki peran historis dalam menjaga nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang harus terus dirawat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pesantren di Indonesia harus bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya melahirkan figur pemimpin kharismatik, tetapi juga mencetak pengelola profesional dan adaptif yang mampu memanfaatkan teknologi. Pernyataan ini disampaikan Menag di Jakarta, Jumat (5/6/2026), sebagai respons terhadap tantangan global yang menuntut lembaga pendidikan Islam tradisional untuk berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Menurut Nasaruddin, pesantren memiliki landasan keilmuan yang unik—ontologis, epistemologis, dan aksiologis—yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain. Oleh karena itu, penguatan Direktorat Jenderal Pesantren harus difokuskan pada upaya memperkuat identitas dan tradisi keilmuan pesantren, bukan sekadar mengejar standar pendidikan nasional. “Keunggulan itu harus terus diperkuat agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman,” ujarnya.
Di tengah arus digitalisasi dan persaingan global, pesantren dituntut untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kapasitas manajerial dan literasi teknologi. Hal ini menjadi krusial mengingat banyak pesantren kini mengelola unit usaha, asrama, dan sistem pendidikan yang kompleks. Tanpa pengelolaan profesional, lembaga ini berisiko tertinggal dalam memberikan layanan pendidikan yang relevan bagi generasi muda.
Lebih lanjut, Menag menyoroti pentingnya menjaga tradisi nasionalisme yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren. Menurutnya, pesantren sejak awal telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan. “Pesantren sejak awal telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia,” kata Nasaruddin. Pernyataan ini relevan di tengah isu radikalisme yang kerap dikaitkan dengan lembaga pendidikan berbasis agama.
Bagi Indonesia, arahan Menag ini memiliki implikasi langsung terhadap kebijakan pendidikan nasional. Pemerintah melalui Kementerian Agama tengah mendorong revitalisasi pesantren agar mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan sumber daya manusia unggul, berakhlak, dan adaptif. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara modernisasi manajerial dan pelestarian nilai-nilai tradisional pesantren.
Ke depan, keberhasilan transformasi pesantren akan sangat bergantung pada komitmen para kiai dan pengelola dalam mengadopsi teknologi tanpa mengorbankan esensi pendidikan pesantren. Akankah pesantren mampu menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan pemimpin nasional sekaligus manajer profesional? Waktu yang akan menjawab.


