AI Belum Jadi Faktor Inflasi, Gubernur The Fed Daly: Efek Deflasi Baru Terasa 5-10 Tahun Lagi
Baca dalam 60 detik
- Mary Daly menegaskan kecerdasan buatan belum memengaruhi inflasi saat ini, yang didorong oleh tarif dan harga energi-pangan.
- Dalam jangka 5-10 tahun, AI berpotensi menjadi kekuatan deflasi, namun tidak relevan untuk kebijakan moneter jangka pendek.
- Pernyataan ini mengindikasikan The Fed akan tetap fokus pada faktor konvensional dalam menentukan suku bunga ke depan.
Presiden Federal Reserve Bank San Francisco, Mary Daly, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) belum menjadi pendorong inflasi maupun deflasi dalam waktu dekat. Menurutnya, efek deflasi dari AI baru akan terasa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, sehingga belum menjadi pertimbangan utama bagi kebijakan moneter yang berorientasi jangka pendek.
Dalam sebuah acara Bloomberg Tech di San Francisco, Kamis (4/6), Daly menjelaskan bahwa kenaikan inflasi saat ini lebih disebabkan oleh kebijakan tarif yang lebih tinggi serta lonjakan harga energi dan pangan sejak pecahnya perang Iran. Ia menepis anggapan bahwa AI turut mendorong kenaikan harga-harga.
βAI bukanlah isu yang mendesak untuk kebijakan moneter yang beroperasi dalam horizon 12 bulan,β ujar Daly, seperti dikutip dari pernyataannya. Ia menambahkan bahwa potensi deflasi dari AI baru akan terlihat dalam jangka panjang, sehingga The Fed tidak perlu terburu-buru menyesuaikan kebijakan berdasarkan perkembangan teknologi tersebut.
Pernyataan Daly ini memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat tetap akan mengandalkan data inflasi konvensional dalam menentukan langkah suku bunga ke depan. Di tengah spekulasi bahwa AI dapat mengubah lanskap ekonomi secara fundamental, Daly menekankan bahwa dampaknya belum cukup signifikan untuk mengubah arah kebijakan jangka pendek.
Bagi Indonesia, pernyataan ini relevan mengingat tekanan inflasi domestik juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga komoditas global. Jika The Fed tetap berpegang pada data inflasi tradisional, maka kebijakan suku bunga AS kemungkinan besar tidak akan terpengaruh oleh perkembangan AI dalam waktu dekat. Hal ini berimplikasi pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah bank sentral di negara berkembang seperti Indonesia perlu mulai mempertimbangkan dampak AI dalam kerangka kebijakan moneter mereka, atau tetap mengikuti pendekatan The Fed yang lebih konservatif. Daly sendiri mengakui potensi deflasi AI, namun menegaskan bahwa waktu yang tepat untuk meresponsnya masih jauh.



