IHSG Terjun Bebas 8,69% dalam Sepekan, Asing Justru Borong Saham Komoditas
Baca dalam 60 detik
- Investor asing membukukan net sell Rp7,39 triliun sepekan, namun tetap mengakumulasi saham energi dan batu bara.
- IHSG anjlok ke 5.594,77, kapitalisasi pasar BEI susut Rp922 triliun, menjadikannya indeks terburuk di Asia.
- Sektor teknologi paling terpukul dengan koreksi 14,08%, sementara saham perbankan relatif lebih tahan.

Di tengah aksi jual besar-besaran investor asing yang mencapai Rp7,39 triliun sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan salah satu pelemahan mingguan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tidak semua saham ditinggalkan: aliran dana asing justru deras masuk ke saham-saham berbasis komoditas dan energi.
IHSG ditutup di level 5.594,77 pada perdagangan 2โ5 Juni 2026, merosot 8,69% dibanding posisi pekan sebelumnya di 6.127,38. Indeks sempat menyentuh titik terendah 5.594,11 dan tertinggi mingguan 6.264,26. Koreksi ini menempatkan IHSG sebagai indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia sepanjang pekan lalu.
Tekanan jual hampir merata di seluruh sektor. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut Rp922 triliun dalam sepekan menjadi Rp9.807 triliun dari sebelumnya Rp10.729 triliun. Volume transaksi harian rata-rata naik 8,66% menjadi 33,63 miliar saham, namun nilai transaksi harian justru turun hampir 5% menjadi Rp26,97 triliun โ mengindikasikan dominasi aksi jual dengan harga lebih rendah.
Menariknya, di tengah arus keluar dana asing yang deras, sejumlah saham sektor energi, batu bara, mineral, dan logam justru mencatatkan net foreign buy terbesar. Ini menunjukkan pergeseran strategi investor global: mengurangi eksposur saham perbankan besar dan beralih ke aset berbasis komoditas yang dianggap lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Secara sektoral, sektor teknologi menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 14,08%, disusul sektor industri 13,32% dan properti 11,33%. Sektor keuangan yang menjadi favorit asing sebelumnya hanya turun 6,74%, relatif lebih kecil. Pola ini mengindikasikan bahwa investor asing melakukan rotasi portofolio dari saham siklikal ke saham komoditas yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi global.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga tentang diversifikasi. Ketika IHSG terpuruk, saham komoditas masih mampu menarik minat asing. Namun, volatilitas harga komoditas global tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai. Pertanyaan selanjutnya: apakah rotasi ini bersifat sementara atau akan menjadi tren jangka panjang? Jawabannya akan sangat bergantung pada pergerakan harga energi dan kebijakan moneter global ke depan.



