Absen Piala Dunia Tiga Kali Beruntun, Timnas Italia Diledek Maskapai Ryanair
Baca dalam 60 detik
- Ryanair mengomentari cuitan Federasi Sepak Bola Italia dengan sindiran pedas soal kegagalan Azzurri lolos ke Piala Dunia.
- Italia sudah tiga edisi berturut-turut absen dari Piala Dunia, terakhir tampil pada 2014 di Brasil.
- Sindiran maskapai berbiaya murah itu kembali mengingatkan publik pada krisis sepak bola Italia yang belum juga pulih.

Maskapai penerbangan murah Ryanair melontarkan sindiran tajam kepada Timnas Italia melalui media sosial, menyoal kegagalan beruntun Azzurri menembus putaran final Piala Dunia. Cuitan itu muncul saat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengunggah foto para pemain yang tengah naik pesawat menuju Luksemburg untuk laga uji coba, dengan keterangan โen routeโ atau โdalam perjalanan.โ Ryanair langsung membalas dengan pertanyaan sinis: โTo where exactly?โ โ sebuah ejekan yang langsung viral.
Pertanyaan retoris itu tidak semata-mata soal rute penerbangan. Ryanair secara terang-terangan mengolok-olok fakta bahwa Italia, yang pernah empat kali juara dunia, sudah tiga edisi berturut-turut gagal lolos ke Piala Dunia. Terakhir kali Gli Azzurri tampil di turnamen terbesar sepak bola itu adalah pada 2014 di Brasil. Setelah itu, mereka absen di edisi 2018 Rusia, 2022 Qatar, dan 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, serta Kanada.
Laga kontra Luksemburg pada Rabu (4/6/2026) waktu setempat sendiri berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Italia. Namun, hasil positif itu tak mampu meredam sorotan tajam warganet dan pihak lain, termasuk Ryanair, yang menilai prestasi Italia di level internasional masih jauh dari harapan. Apalagi, laga itu hanya bersahabat dan tidak memiliki bobot kompetitif.
Bagi pengamat sepak bola, sindiran Ryanair hanyalah puncak gunung es dari krisis yang melanda sepak bola Italia. Setelah menjuarai Euro 2020, tim asuhan Roberto Mancini itu justru gagal total di kualifikasi Piala Dunia 2022, kalah dari Makedonia Utara di play-off. Kegagalan serupa terulang di kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Italia tersingkir di babak grup setelah kalah dari Jerman dan Inggris.
Komentator sepak bola Italia, Paolo Condรฒ, menilai masalah Italia bukan hanya pada kualitas pemain, tetapi juga pada sistem pembinaan usia muda yang ketinggalan dari negara-negara Eropa lain. โKami masih bergantung pada pemain senior yang sudah lewat masa puncak, sementara Jerman dan Prancis terus memproduksi talenta baru,โ ujarnya dalam sebuah wawancara.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa kegagalan beruntun bisa menimpa tim sekelas Italia sekalipun. Timnas Indonesia, yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA, bisa belajar dari pentingnya regenerasi dan konsistensi prestasi. Sindiran Ryanair juga menunjukkan betapa besarnya ekspektasi publik terhadap tim yang pernah berjaya, dan betapa kerasnya kritik yang harus diterima ketika standar itu tidak terpenuhi.
Ke depan, Italia masih memiliki satu laga uji coba lagi melawan Yunani pada akhir pekan ini. Namun, tanpa tiket ke Piala Dunia, pertandingan-pertandingan itu hanya menjadi pemanis di tengah kekecewaan yang mendalam. Akankah FIGC mampu membangun kembali fondasi sepak bola Italia, atau justru akan terus menjadi bulan-bulanan sindiran seperti yang dilakukan Ryanair?
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7963208/original/083998400_1780799713-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_41.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7845665/original/004997000_1780668047-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026-07.jpg)