IHSG Jatuh ke Level 5.600, Rupiah Tembus Rp 18.025 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles ke posisi 5.600 pada perdagangan Kamis (4/6), level terendah sejak 2021.
- Tekanan jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi membuat rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp 18.025 per dolar AS.
- Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke level 5.600 pada perdagangan Kamis (4/6/2026), sekaligus menyeret nilai tukar rupiah ke posisi terlemah dalam lima tahun terakhir, yakni Rp 18.025 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan jual yang masif melanda seluruh sektor, mulai dari saham perbankan hingga komoditas, menyebabkan IHSG kehilangan lebih dari 3% dalam sepekan terakhir. Level 5.600 merupakan titik terendah sejak awal 2021, saat pandemi Covid-19 masih membayangi perekonomian domestik.
Di pasar valuta asing, rupiah tercatat ambles 1,2% dalam sehari, menembus batas psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual investor asing yang keluar dari pasar obligasi dan saham Indonesia, seiring dengan ekspektasi suku bunga acuan yang masih tinggi di Amerika Serikat.
Analis pasar menilai bahwa sentimen negatif global masih menjadi faktor dominan. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi China dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. "Pasar Indonesia sedang menghadapi tekanan eksternal yang kuat. Investor asing cenderung wait and see hingga ada kejelasan arah suku bunga global," ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas dalam laporannya.
Dari sisi domestik, data neraca perdagangan yang mencatat defisit pada April 2026 turut memperburuk sentimen. Defisit tersebut mengindikasikan bahwa impor masih lebih tinggi dibandingkan ekspor, yang berpotensi menekan cadangan devisa. Bank Indonesia sendiri telah melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk menstabilkan rupiah, namun tekanan jual masih terasa.
Bagi investor ritel Indonesia, situasi ini menjadi ujian kesabaran. IHSG yang sudah turun signifikan membuka peluang akumulasi, tetapi risiko pelemahan lebih lanjut masih terbuka. Sementara itu, bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS, depresiasi rupiah akan meningkatkan beban biaya. Pemerintah pun dihadapkan pada tantangan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga barang impor.
Ke depan, pergerakan IHSG dan rupiah akan sangat bergantung pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia dalam RDG bulan Juni. Jika tekanan eksternal mereda, peluang rebound terbuka, namun bila sentimen negatif berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG menguji level 5.400 dan rupiah mendekati Rp 18.200.



