Perang Timur Tengah Dongkrak Biaya Logistik, Emiten Batu Bara Ini Pilih Fokus ke Domestik
Baca dalam 60 detik
- Emiten angkutan batu bara HATM mengaku terbebani kenaikan harga BBM akibat eskalasi konflik Iran-AS-Israel, namun permintaan pengiriman yang meningkat mampu mengompensasi biaya operasional.
- Direktur Utama HATM, Andre Kam, menyebut kebijakan pemerintah menjamin pasokan batu bara dalam negeri menjadi faktor krusial menjaga kelancaran distribusi ke PLN.
- HATM memilih memprioritaskan pasar domestik ketimbang ekspor di tengah volatilitas global, dengan strategi kontrak jangka panjang untuk memitigasi risiko geopolitik.

Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memanas di Timur Tengah tak hanya mengguncang pasar minyak global, tetapi juga merembet ke sektor logistik maritim Indonesia. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu ketegangan geopolitik itu langsung dirasakan oleh emiten jasa angkutan batu bara, PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), yang mengandalkan BBM sebagai komponen utama biaya operasional kapal.
Direktur Utama HATM, Andre Kam, mengakui bahwa lonjakan harga BBM menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Namun, ia menilai bahwa kebijakan pemerintah yang memastikan ketersediaan pasokan batu bara dalam negeri justru menjadi penyelamat di tengah gejolak. "Pemerintah sangat membantu distribusi batu bara dengan menjamin pasokan domestik, sehingga operasional kami tetap berjalan," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (3/6/2026).
Menariknya, kenaikan harga jual batu bara yang ikut terdongkrak oleh permintaan global justru menjadi berkah tersembunyi. Andre menjelaskan bahwa lonjakan harga komoditas tersebut mendorong peningkatan permintaan pengiriman batu bara, yang pada akhirnya mampu mengompensasi kenaikan biaya BBM. "Kenaikan harga batu bara turut mengerek permintaan pengiriman, sehingga bisa mengompensasi kenaikan harga BBM," katanya.
Di tengah ketidakpastian global, HATM memilih untuk tidak memperluas pasar ekspor, melainkan mengamankan kontrak domestik. Strategi ini dinilai lebih realistis mengingat volatilitas harga batu bara internasional dan risiko geopolitik yang masih tinggi. "Saat ini kami masih fokus memenuhi kebutuhan batu bara di dalam negeri, mendukung pasokan ke PLN. Ini langkah aman di tengah situasi yang tidak menentu," tegas Andre.
Keputusan HATM untuk bertahan di pasar domestik juga mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan emiten logistik batu bara Indonesia. Dengan cadangan devisa yang tertekan akibat impor minyak, pemerintah pun mendorong perusahaan untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Langkah ini tidak hanya menjaga stabilitas pasokan listrik nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa lama HATM mampu bertahan jika konflik Timur Tengah berkepanjangan. Meskipun kompensasi dari kenaikan harga batu bara saat ini masih memadai, risiko penurunan permintaan global atau gejolak harga BBM yang lebih ekstrem tetap membayangi. Apakah strategi fokus domestik cukup tangguh menghadapi badai geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda?



