Piala Dunia 2026: Tiga Tuan Rumah di Tengah Ketegangan, Bisakah Bersatu?
Baca dalam 60 detik
- AS, Kanada, dan Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 di tengah hubungan yang tegang akibat tarif, imigrasi, dan sengketa perdagangan.
- Para analis memperingatkan bahwa perbedaan kebijakan, terutama soal China dan keamanan perbatasan, bisa mengganggu kelancaran turnamen 39 hari ini.
- Keberhasilan Piala Dunia ini berpotensi memperbaiki hubungan bilateral, namun kegagalan diplomasi justru bisa memperburuk ketegangan di kawasan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia akan digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, pesta sepak bola terbesar di dunia ini justru dihelat di saat hubungan ketiga negara itu sedang berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, retorika aneksasi terhadap Kanada, serta perbedaan sikap terhadap China dan imigrasi, menjadi latar belakang yang tidak ideal bagi ajang yang seharusnya mempersatukan. Meskipun para pemimpin ketiga negara sempat berfoto bersama saat pengundian di Washington pada Desember lalu, dinamika politik yang kompleks diprediksi akan mewarnai setiap pertandingan selama 39 hari turnamen.
Kanada dan Meksiko, dua mitra dagang utama AS, menjadi sasaran awal kebijakan tarif Trump. Kanada, yang juga sakit hati dengan candaan Trump tentang menjadikannya "negara bagian ke-51", membalas dengan menarik produk alkohol AS dari rak-rak toko dan mengurangi perjalanan warganya ke selatan. Langkah ini memicu kekesalan balik dari AS. Di sisi lain, hubungan Kanada-Meksiko juga merenggang setelah Kanada dituduh mengorbankan Meksiko di depan AS dengan menyebutnya sebagai pintu belakang investasi China di Amerika Utara.
Menurut Carlo Dade, direktur kebijakan internasional di Universitas Calgary, gesekan antara Kanada dan Meksiko ini sangat terasa. "Itu benar-benar tidak sopan," ujarnya merujuk pada sikap Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney kini berupaya memperbaiki hubungan dengan Meksiko sambil berusaha mendiversifikasi perdagangan lepas dari AS.
Lindsay Sarah Krasnoff, profesor olahraga global di New York University, mengingatkan bahwa menjadi tuan rumah bersama tidak otomatis memperbaiki hubungan. Ia mencontohkan Piala Dunia 2002 antara Jepang dan Korea Selatan yang hanya dianggap "imbang" secara historis. Sementara Piala Dunia wanita 2023 antara Australia dan Selandia Baru dinilai lebih positif.
Di Meksiko, persiapan turnamen diwarnai keraguan. Bandara utama, transportasi umum yang padat, dan renovasi Stadion Azteca masih dipertanyakan. Belum lagi aksi kekerasan kartel beberapa bulan lalu dan pemogokan nasional guru yang mengancam akses ke tempat pertandingan. Namun Presiden Claudia Sheinbaum tetap optimis, menyebut Piala Dunia sebagai kesempatan menunjukkan warisan budaya dan semangat rakyat Meksiko.
Jurnalis sepak bola Meksiko, Rafael Puente, berharap para penggemar bersabar. "Satu-satunya yang bisa kita harapkan adalah kegembiraan dan harapan yang ditunjukkan rakyat Meksiko, terutama saat tim nasional bermain," katanya.
Di tengah semua ini, review perjanjian perdagangan USMCA yang telah berlaku sejak 1994 menambah ketidakpastian. Meksiko telah memulai negosiasi formal dengan AS, sementara Kanada belum. Kanada justru mendekati China, sementara Meksiko menaikkan tarif terhadap negara Asia itu. Perbedaan arah ini mencerminkan kompleksitas hubungan segitiga yang dipengaruhi oleh kebijakan Trump yang menjadikan China sebagai pertimbangan utama.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena menunjukkan bagaimana mega-event olahraga bisa menjadi alat diplomasi sekaligus pemicu ketegangan. Indonesia sendiri tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional, dan pelajaran dari Amerika Utara bisa menjadi cermin.
Trump, yang kerap memuji AS sebagai negara "terpanas" di dunia, melihat Piala Dunia sebagai panggung global. Namun keinginannya untuk mendominasi, baik dengan menghadiri acara atau cuitan di Truth Social, berpotensi memicu kecemburuan tetangganya. Di sisi lain, ia juga berkepentingan agar turnamen sukses, sehingga mungkin akan berhati-hati menghindari insiden diplomatik.
"Sepak bola itu permainan yang lucu," kata Krasnoff. "Akan selalu sangat rumit dan kompleks sejak awal, bahkan saat penawaran pertama kali diberikan." Pertanyaannya, akankah tiga negara ini bisa meninggalkan perbedaan demi sebulan penuh sepak bola, atau justru ketegangan yang ada akan semakin dalam?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)
