IHSG Anjlok ke 5.600, Kapitalisasi Pasar Terkikis Rp10.311 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 4,30% ke level 5.683,25 pada perdagangan Kamis pagi, memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya jatuh 4,11%.
- Tekanan jual asing dan sentimen global—dari Wall Street yang melemah hingga kenaikan harga minyak dan dolar AS—menjadi pemicu utama koreksi dalam.
- Pemerintah berupaya meredam kekhawatiran melalui pertemuan dengan S&P Global, menekankan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Kamis (4/6/2026), merosot 4,30% ke posisi 5.683,25—level terendah dalam beberapa tahun terakhir—dan mengikis kapitalisasi pasar bursa menjadi Rp10.311 triliun.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 654 saham tercatat melemah, sementara hanya 48 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Volume transaksi mencapai 8,77 miliar lembar saham senilai Rp5,27 triliun, dengan frekuensi perdagangan 606,9 ribu kali. Pada sesi awal, IHSG sempat dibuka di 5.919,57, namun tekanan jual yang deras membuat indeks menyentuh titik terendah di 5.873,00 sebelum akhirnya ditutup lebih dalam.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya, saat IHSG ambles 4,11% ke 5.941,07. Kala itu, investor asing mencatat aksi jual bersih hampir Rp1 triliun dan sekitar 75% saham berakhir di zona merah. Kombinasi sentimen eksternal dan domestik dinilai menjadi biang keladi kejatuhan kali ini.
Dari eksternal, tekanan datang dari Wall Street yang ambruk, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar AS. Pasar Asia pun ikut tertekan: indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 2%, Nikkei 225 Jepang turun 1,4%, dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,84%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong juga berada di bawah level penutupan sebelumnya, mengindikasikan sentimen negatif masih berlanjut.
Di tengah kepanikan pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan perwakilan Standard & Poor's (S&P) Global di Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pertemuan yang dihadiri Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik, Kim Eng Tan, membahas prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah risiko global seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gangguan rantai pasok.
Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, konsumsi domestik yang kuat, serta kinerja sektor eksternal yang membaik. "Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," ujarnya melalui akun Instagram resmi.
Bagi investor Indonesia, koreksi IHSG yang dalam ini menjadi sinyal waspada. Tekanan jual asing yang berkelanjutan, ditambah dengan ketidakpastian global, berpotensi membuat indeks terus tertekan dalam jangka pendek. Namun, langkah pemerintah yang proaktif melakukan komunikasi dengan lembaga pemeringkat seperti S&P diharapkan bisa memulihkan kepercayaan pasar. Pertanyaannya, akankah langkah itu cukup untuk menghentikan laju penurunan IHSG yang sudah mencapai lebih dari 8% dalam dua hari?



