Stokes Tolak Revolusi: Inggris Cukup Butuh Penyesuaian Kecil Usai Kekalahan Ashes
Baca dalam 60 detik
- Kapten Ben Stokes menegaskan timnya tidak memerlukan perubahan fundamental meski dihancurkan Australia 4-1 di Ashes, cukup dengan eksekusi lebih cerdas di momen krusial.
- Hasil review internal tidak menggoyang posisi direktur kriket Rob Key dan pelatih Brendon McCullum, menunjukkan kepercayaan penuh pada proyek 'Bazball'.
- Inggris akan memulai seri melawan Selandia Baru di Lord's dengan kembalinya Ollie Robinson dan potensi debut Shoaib Bashir, uji coba pertama pasca-Ashes.

Kapten tim kriket Inggris, Ben Stokes, menolak gagasan bahwa skuadnya membutuhkan perubahan besar setelah kekalahan telak 4-1 dari Australia dalam seri Ashes musim panas lalu. Menjelang laga pembuka melawan Selandia Baru di Lord's, Kamis (28/5), Stokes justru menekankan bahwa masalah utama timnya bukan pada strategi fundamental, melainkan kegagalan konsisten dalam memanfaatkan momen-momen genting pertandingan.
Dalam konferensi pers pertamanya sejak kekalahan di Adelaide pada Januari lalu, Stokes mengakui rasa sakit yang mendalam akibat kegagalan memenuhi ekspektasi tinggi publik. Inggris datang ke Australia dengan keyakinan bisa memenangi Ashes tandang untuk pertama kalinya sejak 2010-11, terutama setelah Australia kehilangan sejumlah pemain kunci karena cedera. Namun, kenyataan berkata lain. "Jika Anda tidak merasa sakit setelah kekalahan seperti itu, itu tidak masuk akal," ujar Stokes kepada BBC Sport.
Meski demikian, hasil review internal yang diumumkan pada Maret lalu tidak menghasilkan perubahan di jajaran manajemen. Direktur kriket Rob Key dan pelatih kepala Brendon McCullum tetap bertahan, menandakan bahwa proyek 'Bazball'—gaya bermain agresif yang diusung McCullum—masih mendapat kepercayaan penuh. Stokes menegaskan, "Ini bukan perubahan besar. Ini tentang menjadi lebih cerdas di momen-momen besar pertandingan. Saya akui, ketika pertandingan dalam posisi seimbang, kami terus-menerus mengecewakan diri sendiri."
Stokes juga membantah perlunya memperbaiki hubungan dengan para pendukung. "Saya tidak pernah berpikir ada masalah dengan hubungan kami. Kami tahu kekalahan menyakitkan mereka sama seperti kami. Kami masih ingin membuat mereka bangga," katanya. Pernyataan ini muncul setelah ia mengunggah pesan emosional di Instagram usai review Ashes, menegaskan kecintaannya pada peran kapten dan tekadnya untuk terus berkembang.
Menjelang laga melawan Selandia Baru, Inggris telah memangkas skuad awal 15 pemain menjadi 12. Cuaca basah di Lord's membuat Stokes belum memastikan susunan XI, meski pelatih McCullum mengindikasikan off-spinner Shoaib Bashir akan dimainkan. Stokes mengonfirmasi bahwa Ollie Robinson dan Gus Atkinson akan menjadi pembuka lemparan, sementara Sonny Baker yang belum pernah tampil kemungkinan besar akan dicoret jika Bashir dimainkan.
Kembalinya Robinson menjadi sorotan. Pemain berusia 32 tahun itu memiliki rekor impresif dengan rata-rata kurang dari 23 dalam 20 Tes, namun sering diganggu cedera punggung. Stokes berharap Robinson bisa bertahan lama di tim. "Bagian mudahnya adalah kembali, karena dia selalu sebagus itu. Sekarang dia di sini, soal bertahan selama mungkin. Semoga kita melihatnya berseragam Inggris selama 4, 5, 6 tahun ke depan," ujar Stokes.
Bagi penggemar kriket Indonesia, perjalanan Inggris pasca-Ashes menjadi cermin bagaimana tim besar menghadapi tekanan setelah kegagalan. Dengan pendekatan yang menolak revolusi namun menuntut eksekusi lebih baik, Inggris menguji apakah 'Bazball' benar-benar bisa beradaptasi atau justru akan kembali terperosok di momen krusial. Pertanyaan besarnya: mampukah Stokes dan McCullum membuktikan bahwa penyesuaian kecil sudah cukup, atau akankah seri melawan Selandia Baru menjadi awal dari keretakan yang lebih dalam?



