Stokes Beri Peringatan: Sikap Keras Inggris pada IPL Bisa Bikin Pemain Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Ben Stokes memperingatkan bahwa pendekatan kaku terhadap IPL berpotensi membuat pemain seperti Jofra Archer meninggalkan timnas.
- Archer absen pada laga Tes pertama melawan Selandia Baru karena masih berada di Barbados usai IPL, memicu kritik dari mantan kapten Inggris.
- Stokes menilai perubahan lanskap kriket global membuat pemain memiliki lebih banyak opsi finansial, sehingga federasi harus beradaptasi.

Kapten tim kriket Inggris, Ben Stokes, melontarkan peringatan keras bahwa sikap kaku terhadap Indian Premier League (IPL) bisa mendorong pemain bintang meninggalkan karier internasional. Pernyataan ini muncul setelah pelempar cepat Jofra Archer dipastikan absen pada laga Tes pertama melawan Selandia Baru di Lord's, menyusul keterlibatannya di IPL bersama Rajasthan Royals.
Archer, yang baru kembali ke kriket Tes pada Juli lalu setelah absen empat tahun karena cedera, memilih untuk tidak bergabung dengan skuad Inggris hingga laga Tes pertama usai. Ia kini berada di Barbados, negara kelahirannya, dan baru akan kembali ke Inggris setelah pertandingan. Situasi ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat, termasuk mantan kapten Inggris Michael Atherton dan Michael Vaughan, yang mempertanyakan komitmen Archer terhadap timnas.
Stokes, bagaimanapun, membela rekannya itu. Menurutnya, kritik yang dilontarkan para mantan kapten didasarkan pada realitas kriket satu atau dua dekade lalu, bukan kondisi saat ini. “Ada begitu banyak peluang bagi pemain sekarang yang tidak ada 10, 15, atau 20 tahun lalu,” ujar Stokes. “Saya memahami kedua sisi cerita. Pertanyaan 'mengapa Jof tidak di sini?' memang wajar, tetapi saya juga mengerti bahwa ada peluang lain yang ingin dimanfaatkan pemain.”
Kontrak Archer bersama Rajasthan Royals dilaporkan bernilai sekitar £1,2 juta per musim. Aturan baru IPL juga memperberat konsekuensi bagi pemain yang mundur tanpa alasan medis, yakni larangan tampil di kompetisi tersebut selama dua tahun. Faktor ini menjadi pertimbangan besar bagi pemain yang ingin mengamankan masa depan finansial mereka.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Archer. Batter Jacob Bethell, yang memperkuat Royal Challengers Bengaluru di IPL, juga baru kembali ke Inggris setelah mengalami cedera jari. Bethell bahkan belum memainkan pertandingan bola merah sejak Tes terakhir Ashes di Sydney pada Januari lalu. Meski demikian, ia langsung ditunjuk sebagai pemukul nomor tiga pada laga di Lord's. Stokes mengakui bahwa situasi seperti ini hampir menjadi norma baru dalam kriket modern. “Anda memiliki pemukul nomor tiga yang tampil bagus di Australia, lalu ia menghabiskan sembilan atau sepuluh minggu di India, dan Anda hanya melihatnya dua hari sebelum laga Tes. Itu hampir menjadi hal biasa sekarang,” katanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kompetisi domestik yang kuat seperti IPL mampu mengubah dinamika kriket global. Dengan semakin banyaknya pemain yang memilih liga T20 berbayaran tinggi dibandingkan kewajiban internasional, federasi kriket di negara-negara tradisional harus mencari keseimbangan antara loyalitas timnas dan kebebasan pemain. Jika tidak, bukan tidak mungkin kriket internasional akan kehilangan bintang-bintang terbaiknya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah England and Wales Cricket Board (ECB) mengambil sikap lunak atau justru memperketat aturan? Stokes sendiri mengisyaratkan bahwa pendekatan keras hanya akan memperburuk situasi. “Jika ditangani dengan cara yang berbeda, bisa jadi pemain seperti Jofra tidak akan pernah bermain untuk Inggris lagi. Itu tidak baik bagi siapa pun,” tegasnya. Dengan laga Tes pertama yang masih dihujani ketidakpastian susunan pemain akibat cuaca, tekanan pada ECB semakin besar untuk merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap era baru kriket global.



