Trump Akui Sebut Netanyahu 'Gila' dan Salahkan Israel Hambat Perundingan Damai dengan Iran
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengakui telah menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai 'gila' dalam panggilan telepon, karena pertempuran Israel dengan Hizbullah di Lebanon dianggap menghambat perundingan gencatan senjata dengan Iran.
- Komentar Trump muncul di tengah tekanan domestik akibat kenaikan harga energi dan ketidakpastian ekonomi yang mengancam prospek Partai Republik pada pemilu paruh waktu, serta semakin rumitnya upaya mediasi yang melibatkan Iran, Israel, dan Hizbullah.
- Serangan balasan antara AS dan Iran terus berlanjut, termasuk serangan drone Iran di Kuwait yang menewaskan satu orang, sementara gencatan senjata rapuh di Lebanon terancam oleh serangan baru Israel yang menewaskan enam anggota keluarga di Marwanieyh.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya mengakui bahwa ia menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai "gila" dalam sebuah percakapan telepon yang diwarnai kata-kata kasar, seraya menyesalkan bahwa operasi militer Israel di Lebanon justru memperumit upaya Washington merundingkan perdamaian dengan Iran. Pengakuan yang disampaikan dalam wawancara dengan The New York Post itu menjadi sinyal paling jelas sejauh ini mengenai ketegangan di antara dua sekutu dekat tersebut di tengah konflik Timur Tengah yang kian melebar.
Meski melontarkan kritik pedas, Trump bersikeras hubungan pribadinya dengan Netanyahu tetap solid. "Kami bekerja sama dengan sangat baik. Saya sangat menyukai Bibi. Dan saya bekerja sangat baik dengannya," ujar Trump. Netanyahu, dalam wawancara terpisah dengan CNBC, membalas bahwa dirinya dan Trump kadang memiliki "perbedaan taktis" tetapi memiliki "tujuan bersama" dan "sepakat dalam hal-hal utama". "Dia menghormati saya. Saya menghormatinya. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan," kata perdana menteri Israel itu.
Pengakuan Trump muncul di saat tekanan politik dalam negeri meningkat. Harga energi yang melambung dan ketidakpastian ekonomi mengancam prospek Partai Republik pada pemilu paruh waktu, sementara perundingan damai dengan Iran mandek. Trump enggan memberikan jadwal pasti kapan konflik Iran akan berakhir, bahkan menyebut Selat Hormuz mungkin tetap diblokade hingga Hari Buruh 7 September. Ia menuntut Iran menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pengiriman minyak serta gas alam.
Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada akhir Februari, disebut Trump "terlibat" dalam perundingan. Namun, Trump mengakui kondisi Khamenei sedang tidak baik akibat luka serangan udara. "Mereka bilang dia memberikan persetujuan karena begitulah yang sudah berlangsung lama," kata Trump.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Kuwait menutup sementara bandara utamanya akibat serangan drone Iran yang menghantam gedung terminal penumpang, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan itu menjadi yang terbaru dalam rentetan aksi balas-membalas antara Teheran dan Washington yang menguji gencatan senjata yang sudah berlangsung empat bulan. Warga dan pelancong di negara-negara Teluk yang sebelumnya dianggap sebagai zona aman kini kembali dihadapkan pada risiko perang.
Sementara itu, jalan menuju gencatan senjata permanen antara Israel dan Hizbullah di Lebanon masih diselimuti ketidakpastian. Serangan Israel pada Rabu menghantam sebuah mobil di jalan raya sibuk selatan Beirut, hanya beberapa jam sebelum putaran kedua perundingan Lebanon-Israel di Washington dimulai. Serangan di Khaldeh itu terjadi tanpa peringatan. Sehari sebelumnya, Israel dan Lebanon mencapai kesepakatan yang ditengahi AS: Israel tidak akan menyerang pinggiran selatan Beirut dan Hizbullah akan menghentikan serangan ke Israel utara. Namun, Lebanon ingin memperluas cakupan gencatan senjata secara nasional, sementara Israel menuntut pelucutan senjata Hizbullah segera sebelum menarik mundur pasukannya dari puluhan desa dan kota.
Serangan Israel terus berlanjut di Lebanon selatan, terutama di sekitar kota Tirus dan Nabatiyeh. Dua serangan semalam di dekat Tirus menewaskan empat warga Suriah dan dua warga Palestina. Israel memperingatkan lingkungan Kristen di Tirus bahwa anggota Hizbullah berada di antara mereka, mendorong banyak warga Syiah Lebanon mengungsi ke area tersebut. Tentara Lebanon kemudian dikerahkan ke distrik Kristen Tirus untuk mencegah serangan Israel dan menunjukkan bahwa Hizbullah tidak memiliki kehadiran bersenjata di sana.
Di desa Marwanieyh, tragedi menimpa keluarga Al-Abdallah. Mereka kembali ke rumah setelah mengungsi karena khawatir akan keselamatan. Sehari kemudian, dua roket menghantam rumah tiga lantai itu, menewaskan enam anggota keluarga. Hanya Ahmed Al-Abdallah, 13 tahun, yang selamat setelah terlempar dari bangunan akibat ledakan. Pamannya, Eissa Al-Abdallah, mengatakan bocah itu mengalami patah kaki dan luka serpihan di sekujur tubuh. "Apa gunanya bicara sekarang? Mereka sudah pergi, dan tidak ada yang bisa mengembalikan mereka. Tanah ini berdarah," ujarnya.
Konflik yang semakin meluas ini menimbulkan pertanyaan besar: mampukah para mediator menjembatani kepentingan yang saling bertabrakan antara AS, Iran, Israel, dan Hizbullah, atau justru kawasan akan terjerumus ke dalam perang regional yang lebih dahsyat? Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah berpotensi mengerek harga minyak dunia dan mengganggu pasokan energi, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi impor minyak nasional. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif jika krisis berlarut-larut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557407/original/008674300_1776327946-IMG_0695.jpeg)


