Eksoskeleton untuk Penderita Cerebral Palsy: Terobosan yang Masih Butuh Banyak Jawaban
Baca dalam 60 detik
- Studi sistematis terbaru menunjukkan terapi eksoskeleton mampu meningkatkan kecepatan jalan, daya tahan, keseimbangan, dan mobilitas tingkat tinggi pada anak dengan cerebral palsy.
- Meski hasilnya menjanjikan, bukti masih terbatas pada anak-anak dan belum ada data yang cukup untuk menilai dampak jangka panjang atau efektivitas pada orang dewasa.
- Di Australia, skema pendanaan NDIS tengah meninjau apakah akan menanggung biaya terapi ini, sementara di Indonesia akses terhadap teknologi ini masih sangat terbatas.

Penggunaan eksoskeleton robotik yang dapat dikenakan mulai menunjukkan hasil positif dalam membantu penderita cerebral palsy meningkatkan kemampuan berjalan dan keseimbangan, meskipun para peneliti mengingatkan bahwa masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait efektivitas jangka panjang dan cakupan penggunaannya.
Cerebral palsy, gangguan neurologis yang memengaruhi gerakan dan postur tubuh, menimpa sekitar 50 juta orang di seluruh dunia dan merupakan disabilitas paling umum yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah mobilitas, kekakuan otot, kelemahan, hingga gangguan gerakan abnormal. Fisioterapi konvensional seperti latihan treadmill, penguatan otot, dan latihan spesifik tugas telah lama menjadi andalan, namun dalam dua dekade terakhir, eksoskeleton robotik untuk anggota gerak bawah menjadi fokus utama rehabilitasi neurologis pada orang dewasa, terutama pasca stroke dan cedera tulang belakang.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di jurnal Disability and Rehabilitation mencoba menjawab apakah teknologi yang sama dapat membantu penderita cerebral palsy. Tim peneliti menganalisis 21 studi yang melibatkan 241 partisipan dengan cerebral palsy, dengan usia rata-rata sembilan tahun. Hasilnya, terapi dengan eksoskeleton yang dapat digunakan di permukaan tanah (overground) terbukti lebih unggul dibandingkan terapi konvensional dalam empat aspek: kecepatan berjalan, daya tahan berjalan, keseimbangan, dan mobilitas tingkat tinggi seperti berlari dan melompat.
Meskipun demikian, tinjauan ini juga mengungkap sejumlah keterbatasan. Hanya sedikit studi yang mengevaluasi kembali kondisi partisipan setelah terapi dihentikan, sehingga belum diketahui apakah manfaatnya bertahan dalam jangka panjang. Selain itu, data tidak cukup untuk mengelompokkan hasil berdasarkan tipe atau tingkat keparahan cerebral palsy, maupun berdasarkan usia. Dengan hanya tujuh partisipan dewasa, kesimpulan belum bisa digeneralisasi untuk populasi dewasa. Yang menarik, tidak ada studi yang secara langsung membandingkan eksoskeleton dengan latihan treadmill berbantuan penyangga berat badan, yang merupakan intervensi paling setara dan lebih mudah diakses.
Di Australia, komite penasihat National Disability Insurance Scheme (NDIS) saat ini sedang meninjau berbagai dukungan untuk penyandang disabilitas, termasuk pelatihan jalan berbantuan robot. Hasil tinjauan ini akan menentukan apakah dan bagaimana skema pendanaan nasional akan menanggung biaya terapi dengan teknologi tersebut. Saat ini, sesi terapi dengan eksoskeleton sudah bisa didanai melalui NDIS, namun belum ada skema yang membiayai kepemilikan alat pribadi. Para peneliti menekankan pentingnya konsultasi dengan klinisi yang berpengalaman dan penetapan tujuan yang jelas sebelum memulai terapi, agar keluarga tidak membuang waktu dan biaya pada intervensi yang belum terbukti tepat.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Teknologi eksoskeleton masih sangat langka dan mahal, sementara jumlah penyandang cerebral palsy diperkirakan signifikan. Regulasi alat kesehatan dan skema pembiayaan seperti BPJS Kesehatan belum mengakomodasi terapi robotik. Tanpa data lokal dan kebijakan yang mendukung, akses terhadap inovasi ini akan terhambat. Pertanyaan selanjutnya adalah: akankah Indonesia mulai menyusun peta jalan adopsi teknologi rehabilitasi canggih, atau justru semakin tertinggal dalam memberikan layanan setara bagi penyandang disabilitas?



