Dari Play-off Serie B ke Timnas Italia: Kisah Favasuli yang Tak Terduga
Baca dalam 60 detik
- Bek Catanzaro, Costantino Favasuli, menjalani debut tak terduga bersama Italia setelah Marco Palestra cedera.
- Pemain 22 tahun itu baru saja gagal promosi ke Serie A bersama Catanzaro, namun langsung dipanggil memperkuat Azzurri.
- Kisah Favasuli menjadi inspirasi bagi pemain muda Indonesia yang berjuang dari kompetisi bawah menuju panggung internasional.

Kesempatan emas kerap datang di momen yang tak terduga. Itulah yang dialami Costantino Favasuli, bek muda Catanzaro yang akhirnya mencatatkan debut bersama tim nasional Italia dalam laga uji coba melawan Luksemburg, Kamis (6/6) dini hari WIB. Padahal, pemain berusia 22 tahun itu tidak direncanakan menjadi starter. Cedera ringan yang dialami Marco Palestra, talenta Atalanta, membuka jalan baginya untuk mengenakan seragam biru kebanggaan.
Favasuli mengakui bahwa pengalaman ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. “Ini adalah mimpi masa kecil yang menjadi nyata, sama seperti rekan-rekan setim saya. Kami harus berterima kasih kepada pelatih yang memberi kesempatan unik ini,” ujarnya kepada Sky Sport Italia dan RAI Sport seusai pertandingan. Ia juga memuji Palestra sebagai salah satu pemain terbaik di posisinya, sehingga dirinya sama sekali tidak menyangka akan diturunkan sejak menit awal.
Perjalanan Favasuli menuju timnas Italia terbilang tidak biasa. Hingga pekan lalu, ia masih berjuang bersama Catanzaro di play-off promosi Serie B melawan Monza. Sayang, langkah timnya terhenti di ambang pintu Serie A. Kekecewaan itu harus segera diatasi karena panggilan timnas datang tak lama setelahnya. “Ini sulit, karena kami benar-benar ingin promosi dan hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, berkat mereka (rekan setim di Catanzaro) saya bisa berada di sini hari ini,” ungkap Favasuli, yang juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih Alberto Aquilani dan klub.
Kisah Favasuli memberikan gambaran tentang kedalaman skuad Italia yang terus mencari talenta baru. Bagi pengamat sepak bola nasional, perjalanan pemain seperti Favasuli bisa menjadi pelajaran berharga. Di Indonesia, masih banyak pemain berbakat yang bermain di kompetisi kasta kedua atau ketiga, namun jarang mendapat sorotan. Kesempatan seperti yang dialami Favasuli menunjukkan bahwa kerja keras dan konsistensi bisa membuka pintu ke level tertinggi, meski harus melewati kegagalan terlebih dahulu.
Favasuli, yang bisa bermain sebagai bek kiri maupun kanan, mengaku bangga bisa membela negaranya. “Menjadi suatu kehormatan sejati bisa mewakili negara saya dengan jersey Azzurri,” katanya. Dengan debut yang solid, bukan tidak mungkin ia akan kembali dipanggil untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pertanyaannya, bisakah ia mempertahankan performa dan menjadi bagian dari regenerasi lini belakang Italia? Ataukah ini hanya kilasan singkat sebelum kembali ke bayang-bayang? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: mimpi Favasuli telah terwujud.



