Kisruh Kontrak Vlahovic: Pelajaran Berharga bagi Juventus dalam Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Serbia Dusan Vlahovic dipastikan hengkang dari Juventus secara gratis setelah kontraknya habis, mengulangi kesalahan manajemen yang merugikan.
- Kegagalan memperpanjang kontrak pemain termahal dalam sejarah Serie A ini menjadi studi kasus buruknya strategi negosiasi klub raksasa Italia.
- Kehilangan aset senilai lebih dari 80 juta euro tanpa biaya transfer menimbulkan pertanyaan serius tentang tata kelola keuangan Juventus ke depan.

Keputusan Dusan Vlahovic untuk tidak memperpanjang kontraknya di Juventus dan berpotensi pergi secara gratis pada akhir musim depan menjadi tamparan telak bagi manajemen klub asal Turin itu. Sang striker, yang didatangkan dengan mahar sekitar 80 juta euro pada Januari 2022, kini di ambang pintu keluar tanpa memberikan keuntungan finansial sedikit pun bagi Bianconeri.
Kontrak Vlahovic yang tersisa hanya satu tahun membuat posisi tawar Juventus sangat lemah. Alih-alih menjualnya di bursa transfer musim panas ini dengan harga yang masih wajar, klub justru membiarkan situasi berlarut-larut hingga sang pemain bisa bernegosiasi dengan klub lain secara bebas mulai Januari mendatang. Langkah ini dinilai sebagai kegagalan total dalam manajemen aset pemain.
Menurut pengamat sepak bola Italia, kasus Vlahovic mengingatkan pada kesalahan serupa yang pernah dilakukan Juventus terhadap Paulo Dybala dan Aaron Ramsey. Keduanya juga hengkang dengan status bebas transfer setelah kontrak habis, membuat klub kehilangan potensi pendapatan yang besar. “Ini pola yang berulang. Juventus terlalu sering membiarkan pemain bintangnya pergi tanpa biaya,” ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Bagi klub sebesar Juventus, kehilangan pemain semahal Vlahovic tanpa biaya transfer adalah kemunduran finansial yang signifikan. Apalagi di tengah upaya klub untuk memulihkan keuangan setelah skandal plusvalenza dan larangan bermain di kompetisi Eropa. Kepergian Vlahovic secara gratis akan mempersulit rencana restrukturisasi skuad yang tengah digagas oleh direktur olahraga Cristiano Giuntoli.
Dari sisi Vlahovic, keputusan ini menunjukkan bahwa sang pemain tidak lagi percaya pada proyek jangka panjang Juventus. Performanya yang naik turun selama tiga musim terakhir—dengan total 43 gol dalam 106 penampilan—juga membuatnya enggan bertahan di klub yang gagal bersaing di papan atas Serie A dan Liga Champions. Ia dikabarkan diminati oleh beberapa klub Premier League seperti Arsenal dan Chelsea.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen kontrak yang cermat. Klub-klub Eropa, sekaliber Juventus sekalipun, bisa terjebak dalam kesalahan negosiasi yang merugikan. Hal ini juga relevan bagi klub-klub Asia yang mulai berinvestasi besar pada pemain asing, agar tidak mengulangi pola yang sama.
Ke depan, Juventus harus segera mengambil pelajaran berharga dari saga Vlahovic. Pertanyaan besarnya: akankah klub asal Turin ini mampu memperbaiki strategi negosiasinya, atau akan terus kehilangan aset berharga secara gratis? Jawabannya akan menentukan arah kebangkitan Bianconeri dalam beberapa musim ke depan.



