Kesatria Bengawan Solo Diminta Tak Mulai dari Nol Lagi: Tren Positif Musim Ini Jadi Modal
Baca dalam 60 detik
- Kesatria Bengawan Solo menutup musim IBL 2026 dengan rekor 10-10 di musim reguler dan satu kemenangan playoff, sebuah pencapaian terbaik sejak bergabung pada 2024.
- Pemain senior Ponsianus Nyoman Indrawan menegaskan tim harus mempertahankan momentum dan tidak kembali ke titik awal setelah melalui awal musim yang buruk (0-5).
- Manajemen kini dihadapkan pada pilihan strategis: mempertahankan skuad dan pelatih Anthony Garbelotto, atau memulai lagi dengan wajah baru di musim depan.

Kesatria Bengawan Solo meninggalkan IBL 2026 dengan catatan yang tak sepenuhnya pahit. Meski kembali tersingkir di putaran pertama playoff, tim asal Solo ini berhasil mencuri satu kemenangan dari Bogor Hornbills—sebuah prestasi yang tak pernah mereka raih dalam tiga musim terakhir. Kini, manajemen dan pemain didesak untuk tidak menyia-nyiakan modal kebangkitan ini dengan memulai dari nol lagi.
Pemain senior Ponsianus Nyoman Indrawan, yang akrab disapa Komink, menjadi salah satu suara paling vokal di ruang ganti. Ia mengingatkan bahwa musim ini adalah bukti nyata kapasitas tim untuk bangkit. “Awal musim kami hancur-hancuan dengan rekor 0-5. Tapi kami bisa bangkit, bahkan mencuri satu kemenangan dari tim peringkat ketiga. Ini peningkatan,” ujarnya. Menurut Komink, kegagalan di playoff bukanlah akhir, melainkan awal dari tren positif yang harus dilanjutkan.
Head coach Anthony Garbelotto pun menyatakan kebanggaannya. Ia menyebut musim ini sebagai “kesempatan kedua” setelah tim nyaris terpuruk di awal. “Saya bangga dengan para pemain. Kami sempat terpuruk, lalu bangkit dan bisa mencuri satu kemenangan di playoff,” katanya. Namun, Garbelotto sadar bahwa masa depannya bersama Kesatria belum pasti. Ia adalah pelatih ketiga yang ditangani tim dalam tiga musim sejak bergabung dengan IBL pada 2024.
Keputusan di offseason nanti akan menjadi penentu arah klub. Apakah Kesatria akan mempertahankan Garbelotto dan mayoritas pemain, atau justru melakukan perombakan besar? Komink dengan tegas meminta agar tim tidak mundur. “Jangan mulai dari nol lagi. Kita harus melanjutkan tren positif ini untuk musim depan,” imbuhnya. Pernyataan itu menjadi tekanan tersendiri bagi manajemen yang selama ini kerap berganti pelatih.
Dari sisi persaingan, pencapaian Kesatria musim ini menunjukkan bahwa tim memiliki potensi untuk bersaing di papan tengah IBL. Awal musim yang buruk sempat membuat mereka terpuruk di dasar klasemen, namun kebangkitan di paruh kedua membuktikan daya juang skuad. Kemenangan tipis 82-81 atas Bogor Hornbills di kandang sendiri menjadi bukti bahwa mereka mampu mengimbangi tim unggulan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah manajemen memiliki visi jangka panjang yang sejalan dengan semangat para pemain? Dengan sejarah pergantian pelatih yang cepat, stabilitas menjadi kata kunci. Jika Kesatria ingin benar-benar melangkah lebih jauh, mereka harus berani mempertahankan fondasi yang sudah terbangun musim ini—bukan malah merobohkannya dan memulai dari awal lagi.



